| | | TAJUK, 14-Mei-2008 12:46:16 WIB | | | 10 Tahun reformasi, saatnya bersatu | Sepuluh tahun lalu situasi republik genting. Kegelisahan rakyat akan realita kehidupan menemui puncaknya. Gelombang aksi massa rakyat yang dipelopori mahasiswa semakin menjadi-jadi. Soeharto sebagai simbol kekuasaan Orde Baru menjadi musuh bersama. Tuntutan rakyat awalnya sederhana. Hanya persolan ekonomis, tapi kemudian bergerak maju menjadi tuntutan yang politis. Dari turunkan harga, menjadi turunkan Soeharto!
Merunut sedikit sejarah ke belakang, secara logika formal, keresahan rakyat semakin menjadi-jadi ketika 22 Januari 1998 harga rupiah menembus level Rp17.000,- per dolar disusul meroketnya harga BBM 71% pada 2 Mei 2008 yang langsung disambut dengan demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa di berbagai daerah.
Gelombang perlawanan terus meluas. Pada 12 Mei 1998 meletus tragedi Trisakti, 4 mahasiswa Trisakti tewas tertembak timah panas. Penindasan melahirkan perlawanan. Represifitas tak berhasil meredam pikiran muda mahasiswa yang sebelumnya terpasung di bawah kebijakan NKK BKK.
Amarah mahasiswa semakin menjadi-jadi. Namun keesokan harinya terjadi kerusuhan yang sifatnya liar. Kerusuhan Mei 1998, entah siapa yang mempelopori, rakyat tiba-tiba mengamuk. Arah serang politik yang tadinya vertikal keatas menyerang rezim Orba menjadi bias. Isu anti China mencuat.
Solo dan Jakarta membara. Hura-hara tersebut membuat etnis Tionghoa mulai eksodus meninggalkan Indonesia. Kerusuhan menjadi tak tentu arah. Sentimen rasis muncul dimana-mana.
“Turunkan harga! Turunkan Soeharto! Ganyang Orba! Cabut Dwi Fungsi Abri! Tentara pembunuh rakyat! Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan!” seruan-seruan reformasi pun tersebut menggema di seantero republik. Tak mampu membendung, maka 21 Mei 1998 Soeharto meletakkan jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia.
Sepuluh tahun sudah umur reformasi. Tapi realitanya rakyat masih terbelenggu oleh kemiskinan. Sehingga tak sedikit rakyat yang menggumam, “Ah..enakan jaman Soeharto dulu....” Padahal bila dikaji kondisi hari ini merupakan getah dari masa lalu. Getah dari sistem yang dibangun Orba.
Sebetulnya ada kemiripan kondisi 10 tahun lalu dengan situasi saat ini. Apalagi subsidi minyak akan dicabut yang sudah menjadi barang tentu kenaikan harga-harga menjadi konsekuensi.
Pertanyaannya apakah mahasiswa kembali turun dari menara gadingnya mempelopori perlawanan. Tapi tentunya harus belajar dari pengalaman masa lalu bahwa ternyata, setelah melengserkan Soeharto tak banyak perobahan. Mesin politik Orba, Golkar dan Militer, tetap menjadi pemenang di ranah politik.
Buah dari reformasi akhirnya hanya untuk segelintir orang saja. Sementara tatanan bangsa ini tetap carut marut. Haluan ekonomi maupun politik tak bergeser sedikitpun. Meski bulir-bulir demokrasi berhasil melepaskan pasungan untuk bertindak dan berpendapat, nasib rakyat tidak lebih kuat! |
|
|
|