| | | SENI HIB, 10-Mei-2008 13:20:31 WIB | | | Patricia Rolla Bawata Sempat ingin pensiun muda | Semula bercita-cita menjadi farmakologis, tapi akhirnya ‘berlabuh’ di bisnis asuransi. Itulah perjalanan hidup yang dialami Patricia Rolla Bawata, perempuan kelahiran Manado yang kini menduduki posisi sebagai Direktur PT AXA Life Indonesia.
Wanita kelahiran 42 tahun lalu itu sejak SMA memang sudah bertekad ingin menjadi ahli farmasi (farmakolog). Alasannya, sejak SMA dia menyukai dan menguasai mata pelajaran kimia. Rolla bahkan sudah sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair), namun tidak selesai. Selanjutnya dia menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Klabat, Manado, hingga meraih gelar sarjana ekonomi.
Meski tak kesampaian menjadi farmakolog, Rolla masih sempat bekerja di perusahaan farmasi yaitu Ciba-Geigy selama hampir empat tahun (1988-1992), sebelum akhirnya tertarik di bisnis asuransi. Kiprahnya di asuransi dimulai di Asuransi Astra.
Setelah beberapa tahun bekerja di sana, Rolla pindah ke asuransi John Hancock Indonesia, sebelum akhirnya mantap berkarier di AXA Life Indonesia.
“Saya relatif baru di AXA. Saya baru saja bergabung pada Desember tahun lalu,” ujarnya.
Ihwal dia masuk ke dunia asuransi adalah ‘terpaksa’, karena diajak teman. Dia mulai mencoba menjadi agen asuransi ketika masih bekerja di Ciba-Geigy, sekitar 1988. Jadi dia bekerja sambilan menjadi agen asuransi dengan memasarkan produk Manulife, karena tidak terikat waktu.
Tapi lama-kelamaan Rolla semakin menikmati pekerjaan sebagai agen asuransi. Apalagi penghasilan sebagai agen (sales force) asuransi lebih tinggi dibandingkan dengan gaji di perusahaan farmasi itu. Sehingga jadilah Rolla menekuni bidang asuransi secara serius. Pekerjaan di Ciba-Geigy pun ditinggalkannya.
Ketika mengomentari soal pekerjaan, dia menilai mengabdikan diri di asuransi merupakan tugas yang mulia, karena dapat membantu orang merencanakan masa depan.
“Manusia pasti akan mengalami kematian, tapi bisnis asuransi tidak akan pernah mati,” ujarnya. Menurut dia, selama manusia masih ada di muka bumi ini, asuransi akan terus eksis, karena manusia membutuhkan asuransi. Karena sudah menyerahkan sepenuhnya pengabdian pada dunia asuransi, Rolla selalu ingin memberikan yang terbaik bagi perusahaan tempatnya bekerja. “Saya selalu ingin memberikan yang terbaik. Ini sesuai dengan prinsip hidup saya yang tidak mau mengecewakan orang,” kata Rolla.
Menjadi yang terbaik
Karena itu, dia tidak pernah mengeluh ketika diberi target tertentu dari atasan. “Berapa pun target yang dibebankan kepada saya, saya selalu usahakan untuk memenuhinya, karena saya tidak ingin mengecewakan atasan saya.”
Dia juga selalu ingin menjadi yang terbaik. “Di sekolah saya selalu juara,” kenangnya.
Menurut dia, prinsip hidup ini dijalani dengan penuh rasa percaya diri. Perasaan ‘pede’ ini bahkan dapat membantunya dalam menghadapi berbagai persoalan dan hambatan, termasuk soal keputusannya untuk tetap hidup sendiri.
“Masalah berkeluarga atau tidak, itu adalah pilihan hidup. Namun saya tidak pernah merasa kesepian,” tuturnya.
Dia pun tidak merasa minder karena kesendiriannya itu, termasuk di lingkungan perusahaan di mana Rolla termasuk salah satu pimpinan yang harus menjadi panutan bawahan. “Bagi saya, menjadi panutan bukan dilihat dari jabatan, umur atau status, melainkan pada kedewasaan bertindak dan berpikir.”
Sukses di bisnis asuransi tak membuat Rolla berpuas diri. Masih ada satu cita-citanya yang harus digapai, yaitu mengabdikan diri di bidang sosial.
“Sebenarnya saya sudah ingin pensiun muda. Waktu itu saya bahkan sudah dapat pesangon dari John Hancock. Namun AXA memanggil saya, dan akhirnya saya pun bekerja kembali.”
Meski demikian, suatu saat nanti dirinya pasti akan pensiun. Itulah saatnya bagi Rolla untuk mencurahkan seluruh waktunya dengan mengabdi di bidang sosial. Saat ini dia sudah mulai merintis kegiatan di bidang sosial dengan mengabdikan diri di sektor pendidikan dengan menjadi Ketua Yayasan Sekolah SMA Pioneer di Manado.
Dia juga aktif di kegiatan kerohanian gereja melalui persekutuan doa. Salah satu kegiatannya adalah pelayanan kepada anak-anak jalanan.
“Kalau sudah pensiun nanti, saya bisa fokus 100% untuk mengabdikan diri di bidang sosial ini.”(Afriyanto/JBBI) |
|
|
|