| | | KABAR JIRAN, 14-Mei-2008 12:47:6 WIB | | | Refleksi 10 tahun reformasi Amin Rais: Jangan saya terus, kemana yang lain? | Mantan Ketua MPR Amien Rais tidak ingin dianggap sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas kegagalan reformasi, apalagi tugasnya sebagai intelektual dan politisi sudah berakhir.
“Jangan saya terus yang ditanya. Kemana yang lain?,” katanya di sela-sela peluncuran bukunya berjudul ‘Selamatkan Indonesia’ di Jakarta, kemarin seperti ditulis Antara.
Amien mengakui, selama 10 tahun reformasi bergulir, baru bidang politik yang tampak ada perubahan. Bidang lain, seperti ekonomi, hukum dan pendidikan belum sepenuhnya berubah.
Menurut dia, dari tiga bidang tersebut, bidang ekonomi seolah tidak ada kemajuan, justru mengalami kemunduran. Sumber-sumber migas justru banyak yang diserahkan pengelolaannya kepada pihak asing.
Begitu juga bidang pendidikan yang mengarah kepada liberalisasi dan feodalisme sehingga pendidikan menjadi sangat mahal. Untuk bidang hukum, sebenarnya ada perkembangan, tetapi masih terkesan tebang pilih.
Amien mengemukakan, tidak kuat apabila harus menanggung beban tanggungjawab sendirian atas kegagalan reformasi. Tanggungjawab kegagalan itu tidak bisa ditanggungnya sendirian. “Tentu tidak kuat apabila harus menanggung sendiri. Tugas intelektual dan politik saya sudah terpenuhi,” katanya.
Mantan Wakil PM Malaysia Anwar Ibrahim yang hadir dalam peluncuran buku tersebut mengakui demokrasi di Indonesia berkembang pesat. Perkembangan itu menggembirakan, meski berlangsung di tengah banyaknya persoalan, termasuk korupsi.
Perkembangan demokrasi yang menggembirakan itu, menurut Anwar Ibrahim juga bisa dilihat dari munculnya kebebasan pers. Hal itu berbeda di situasi di Malaysia.
Meski persnya tidak sebebas di Indonesia, namun Malaysia berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Indonesia bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya apabila tidak mengabaikan keadilan dalam memacu pertumbuhan ekonomi.
Masih di politik Amien Rais mengemukakan reformasi yang telah berusia 10 tahun baru menyentuh bidang politik sehingga terjadi ketimpangan dengan bidang lain yang justru mengalami kemunduran.
Revisi terhadap berbagai UU tentang politik juga telah banyak dilakukan parlemen. Namun untuk bidang hukum, pendidikan dan ekonomi ternyata reformasi seolah kandas.
Di ketiga bidang tersebut, reformasi seolah tidak tampak. Kondisi perekonomian belum membaik, bahkan perkembangan ekonomi belum mampu meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat. Banyak masyarakat yang semakin menghadapi kesulitan akibat adanya kenaikan harga BBM.
Untuk mewujudkan reformasi, dia menawarkan beberapa gagasan. Pertama, formulasi kepemimpinan alternatif atau transformatif. Kedua keberanian pemimpin baru melakukan negosiasi ulang atas kontrak karya pertambangan minyak dan gas (migas) serta non migas.
Ketiga, kaji ulang sejumlah UU yang merugikan masyarakat karena dinilai terlalu memihak kepada kepentingan asing, termasuk UU di bidang migas, pelayaran, kelistrikan dan penanaman modal.
Keempat, menumbuhkan ekonomi kerakyatan dan bukan memprioritaskan kepada ekonomi konglomerasi. |
|
|
|