| | | KABAR JIRAN, 24-Mar-2008 13:21:30 WIB | | | | Sergei, Sumut tolak penarikan minah | MEDAN, MONDE: Kabupaten Serdang Bedagai (Sergei), Sumatera Utara, menyatakan akan tetap menolak penarikan minyak tanah (minah) dari daerah itu apabila tidak ada jaminan tertulis dari pemerintah pusat, sebagai bahan bakar pengganti.
“Sikap itu sudah disampaikan Sergei ke Pemprov Sumut dan Pertamina. Kami tidak ingin terjadi seperti di daerah Jawa yang kebijakan konversi minah ke elpiji itu akhirnya menimbulkan banyak masalah,” kata Kabag Perekomian Sergei,H.zainal Arifin, di Medan, kemarin.
Apalagi, kata dia, hingga saat ini, masalah pengadaan minah juga masih sering bermasalah di Sumut termasuk akibat keterlambatan pasokan dan pasokan yang ketat ditengah naiknya terus kebutuhan warga.
Untuk menghindari klaim warga atas minah itu, Sergei sendiri sudah melakukan berbagai kebijakan mulai dari pengalokasian sesuai jumlah jiiwa di dalam satu rumah tangga dari sebelumnya yang berdasarkan per kepala keluarga.
Humas bagian eksternal PT Pertamina (Persero) Pemasaran BBM Retail Region I, Fitri Erika, mengakui, program konversi minah ke elpiji di Sumut yang dijadulkan tahun ini gagal karena daerah mengaku masih belum siap menjalankan program itu.
Menurut dia, menurut rencana, program konversi itu dijadualkan pertama dilakukan di Kota Medan dan daerah sekitarnya seperti Deli Serdang, Sergei, dan Binjai.
“Tapi sesuai rencana, program konversi itu akan tetap dilakukan,” katanya tulis Antara.
Untuk itu, kata dia, Pertamina terus melakukan sosialisasi dan sekaligus menyiapkan berbagai kebutuhan untuk konversi ke elpiji itu seperti pemasokan tabung gas dan kompor yang sebagian sudah masuk ke Sumut.
Sementara itu, anggota DPD RI utusan Sumut, Parlindungan Purba, mengatakan, penolakan Sergei itu wajar dan pasti dilakukan semua daerag di Sumut mengingat program pemerintah atas koneveris minah ke elpiji itu tidak diikuti kesiapan pemerintah.
Kota Medan, misalnya, kata dia, wajar menolak konversi itu, karena sebelumnya pemko daerah itu sempat mensosialisasikan penggunaan batubara pengganti minah dan ketika warga mulai menerima, pemerintah akhirnya menunda dengan dalih kesulitan mendapatkan bahan bakar itu. |
|
|
|