| | | EDUKASI, 15-Mei-2008 12:33:50 WIB | | | Guru cemaskan siswa | DEPOK, MONDE: Kalangan guru di sekolah penyelenggara ujian mengaku cemas terhadap pelaksanaan UASBN, meski pemerintah memberikan banyak kelonggaran.
Perasaan semacam ini adalah wajar, sebab UASBN baru pertama kali digelar di seluruh Indonesia. “Perasaan was-was tentu ada. Apalagi yang ujian itukan masih anak-anak. Kita sebagai guru tentu khawatir. Takut mereka salah mengisikan nama atau nomor di LJK dan perasaan takut yang lain. Meski demikian kita tetap optimis anak-anak bisa menjalani ujian dengan baik, karena kita sudah mempersiapkan secara maksimal mulai dari tambahan jam pelajaran hingga latihan soal,” papar Djuarsih, Kepsek SDN Depok I kepada Monde disela-sela pelaksanaan ujian dengan jumlah peserta 32 siswa, kemarin.
Senada diungkapkan Kepala Sekolah SDN Depok 3, Sujana. Dalam UASBN, ada matapelajaran yang masih menjadi momok, tak hanya bagi siswa tapi juga guru. “Dari ketiga matapelajaran yang diujikan, pelajaran hari ini (kemarin-red) tentu yang paling meresahkan adalah matematika, meskipun tidak semua anak mengalami kesulian di mata pelajaran tersebut,” ujarnya.
Meski demikian, sekolah telah berupaya maksimal dengan memberikan jam pelajaran tambahan kepada anak-anak sejak awal semester dua.
Terlepas dari itu, katanya, pelaksanaan ujian di hari kedua ini terbilang lancar dan berjalan kondusif. Kondisi sekolah cukup hening dan siswa di dalam ruang ujian terlihat serius, namun tetap tenang dalam mengerjakan soal.
Di SDN Pancoran Mas 4, tak lama setelah bel tanda ujian usai berdering, pengawas langsung memasukkan LJK ke dalam amplop.
Kemudian dibawa oleh tim pengawas ke ruangan panitia untuk kembali dilakukan pengecekan. Setelah dipastikan tidak ada LJK yang tercecer, amplop besar berisi LJK disegel yang disaksikan pihak panitia dan pengawas.
“Secara teknis pelaksaan ujian berjalan lancar dan tertib. Mudah-mudahan hingga hari terakhir tetap lancar dan semua siswa lulus,” harap Adjehar, Kepsek SDN Panmas 4.(m-11)
|
|
|
|