Make this site your Homepage Add to Favorites
Pencarian berita  
Minggu, 12 Oktober 2008
 
DEPOKRASI, 07-Ags-2008 08:13:43 WIB
_ Versi cetak _ Versi PDF
Stok gas di pangkalan mulai langka
  Berita Lainnya
Banpol PPP Rp320 juta disoal
KPU Depok mirip badut politik
Babai: Sidak tak perlu tata kedinasan
DEPOK, MONDE: Pangkalan gas yang terkena imbasnya di antaranya milik Asiah, warga Cagar Alam, Pancoran Mas. Ia mengaku hampir sepekan ini pangkalannya kekurangan pasokan gas.

“Sudah seminggu ini gas di pangkalan saya sepi. Biasanya dalam sehari dapat kiriman 400 tabung gas 3 kg, tapi sudah seminggu hanya 200 tabung, itupun langsung habis,” ujarnya. Hal yang sama diungkapakn Herlina, pemilik pangkalan gas di sekitar Jalan Raya Bogor, Cilodong, Sukmajaya.

Ia mengngkapkan sudah seminggu pangkalan yang dimilikinya hanya mendapatkan 50 tabung gas ukuran 3 kg seharinya, padahal permintaan konsumen dalam sehari di pangkalannya mencapai 250 tabung.

“Saya bingung kenapa bisa begitu. Saya udah menanyakan ke pihak agen yang menjadi langganan, tetapi mereka juga nggak bisa berbuat apa-apa. Alasannya kata mereka karena dari stasiun pengisiannya yang tersendat,” ujarnya.

Yahman Setiawan, pemilik agen PT Raja Gas juga mengaku kewalahan akan permintaan gas yang semakin hari semakin menumpuk. “Permintaan memang tinggi, tapi pasokannya malah berkurang,” ucapnya.

Untuk normalnya, kata dia, pasokan gas tabung 3kg mencapai 7.000 hingga 8000 tabung per hari. Akan tetapi saat ini pasokan hanya didapatkan 5.000 tabung saja.

“Saya jadi bingung mengatasi masalah ini. Akhirnya saat menerapkan penjatahan secara merata agar para pemilik pangkalan tidak dirugikan,” papar Yahman yang juga Ketua Hiswana Migas Depok.

Ratna, ibu rumah tangga yang tinggal di Beji, menuturkan dampak berkurangnya pasokan gas mengakibatkan kesulitan untuk mendapatkan gas epiji 3 kg di pengecer. “Saya sulit cari gas soalnya di warung-warung pada kosong,” katanya dengan nada kesal.

Pasalnya, bagi ibu rumah tangga keberadaan gas sebagai bahan bakar sangat penting untuk keperluan memasak, terlebih lagi minyak tanah sudah sulit diperoleh meski ada harus beli dengan harga mahal.

“Saya kadang nggak habis pikir sampai saat ini pemerintah dan Pertamina tidak mampu mengelola pendistribusian BBM dengan baik. Akibatnya masyarakat yang terus dirugikan dengan kelangkaan gas,” ujar Ratna yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Menurut dia, kelangkaan gas elpiji bukan terjadi kali ini saja tapi berualang terus tanpa ada penanganan serius. Malahan saat diberlakukan konversi dari minyak tanah ke gas elpji di sejumlah wilayah, kedua jenis bahan bakar ini malah hilang dari pasaran. “Aneh yah, inilah Indonesia,” sindirnya.(dmr/why)

^^ Kembali ke atas

Copyright © PT. Aksara Depok Makmur (Penerbit Skh. Monitor Depok), November 2004 - 2008. v1