| | | DEPOKRASI, 16-Mei-2008 13:24:13 WIB | | | Dikhawatirkan tidak tepat sasaran BLT di Depok gunakan data lama | DEPOK, MONDE: Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok Warsito mengungkapkan kemungkinan besar penyaluran BLT sebagai konsekuensi dari kebijakan pemerintah pusat menaikkan haga BBM pada akhir Mei ini kemungkinan besar masih menggunakan data lama.
Pasarnya, sejauh ini BPS belum melaksanakan pemutakhiran data sebab baru akan dilaksanakan pada September-Oktober 2008. Dengan demikian untuk pembagian Bantuan Lansung Tunai (BLT) pada Juni dan Desember 2008 masih menggunakan data tahun sebelumnya.
“Pembagian BLT pada Juni-Desember pada 2007, BPS mengunakan data tahun 2005-2006 dan dicetak lagi pada 2008. Dengan kondisi seperti itu, bisa jadi data tahun lalu sudah tidak sama lagi, dimana yang dulunya miskin saat ini sudah menjadi kelompok mampu atau pun sebaliknya,” tuturnya menjelaskan.
Jika masih mengunakan data sebelumnya, maka warga Depok yang berhak mendapatkan BLT sebanayak 32.085 Rumah Tangga Miskin (RTM). Dengan perincian Sawangan 5.747 RTM, Pancoran Mas 6.764 RTM, Sukmajaya 5.577 RTM, Cimanggis 8.503 RTM, Beji 2.843 RTM serta Limo 2.651 RTM.
“Pemerintah pusat melalui Departemen Sosial tanpa melibatkan BPS, saat ini telah mencetak kartu BLT dengan mengunakan data yang lama,” tambahnya.
Oleh sebab itu dikhawatirkan pembangian BLT tidak tetap sasaran sebab data yang digunakan masih yang lama sehingga bisa jadi sudah tidak sesuai dengan kondisi penerima saat ini.
Lebih lanjut Warsito mengatakan BPS akan menjadwalkan update data bagi warga penerima BLT pada September-Oktober tahun ini. Dimana hasilnya, akan dijadikan pijakan dalam pembagian BLT pada Januari 2009.
Dengan melibatkan RT, RW hingga lembaga swasdaya masyarakat (LSM), Wasito menargetkan pihaknya mampu menyelesaikan survai data gakin hingga terbaru pada November mendatang.
Dia mengungkapkan ada sejumlah kendala yang dihadapi petugas di lapangan antara lain tidak sedikit warga yang tidak termasuk kriteria miskin menghendaki alokasi BLT. Akhirnya petugas merasa takut sehingga tak jarang meloloskan mereka. Oleh sebab itu, kata Warsito, untuk menjadi petugas survai diperlukan orang yang tahan uji dilapangan.(ina) |
|
|
|