Make this site your Homepage Add to Favorites
Pencarian berita  
Sabtu, 22 November 2008
 
DEPOKRASI, 14-Mei-2008 12:20:53 WIB
_ Versi cetak _ Versi PDF
Dua murid inklusi Lazuardi ujian terpisah
  Berita Lainnya
Walhi: Programnya bagus, tapi caranya yang ngawur
Disdik panggil Mitra Jasa
Pemkot acuhkan penolakan warga
LIMO, MONDE: Walau memiliki keterbatasan dan harus memperoleh penanganan khusus dengan yang lainnya (inklusi), dua siswa SD Lazuardi tetap mengikuti Ujian Akhir Sekolah Berstandard Nasional (UASBN).

Dua siswa ini melaksanakan ujian di ruang terpisah dengan siswa reguler lainnya. Ketika menjalani ujian, dua siswa ini didampingi oleh terapis agar dalam mengerjakan soal bisa lebih konsentrasi. Pelaksanaan UASBN SD Lazuardi memang memiliki dua siswa bernama Ilham dan Hilmi yang membutuhkan penanganan berbeda karena autis (inklusi).

“Tentu saja saat ujian tidak bisa digabung dengan siswa reguler lainnya,” ujar Nurhasanah, Kepala Sekolah SD Lazuardi ketika ditemui Monde di sela-sela pengawasan.

Pemisahan ini dilakukan agar Ilham dan Hilmi tidak mengganggu siswa lainnya, ketika mengerjakan soal ujian. Memang harus diakui siswa yang mengidap autis sulit untuk berkonsentrasi.

Menurutnya, berbeda dengan siswa pada umumnya yang menggunakan lembar jawaban opscan, sedangkan dua siswa inklusi tetap menggunakan lembar jawaban biasa. “Dari sisi standard soal tidak dibedakan dengan siswa yang lainnya,” ungkap Nurhasanah.

Dia mengungkapkan pihak sekolah sendiri mengalami kesulitan jika ingin membedakan soal karena soal langsung didistribusikan dari pusat.

Siswa yang mengalami keterbatasan ini memang jumlahnya terbatas dan terkadang tidak semua sekolah menerima karena harus mendapat perlakuan berbada.

Dalam proses belajar, papar Hasanah, dua siswa ini digabungkan dengan siswa reguler yang lainnya.

“Pada awalnya para siswa memang terganggu akan tetapi lama kelamaan mereka juga terbiasa dan bahkan ikut ngemong,” kata Nur.

Kecerdasan dua siswa ini tidak berbeda dengan siswa yang lainnya, hanya memiliki perbedaan di perilaku. Maka dari itu membutuhkan perilaku khusus.

Ketika Monde meninjau langsung Ilhan dan Hilmi mengerjakan soal bahasa Indonesia, dengan santainya mereka menjawab dapat mengerjakan soal dengan mudah.

“Soalnya gampang. Soal di kelas yang lainnya gampang atau ngak?” tanya Hilmi. Sepanjang ujian kedua siswa inklusi ini tak henti-hentinya bertanya kepada pengawas dengan pertanyaan yang sama.(mas)


^^ Kembali ke atas

Copyright © PT. Aksara Depok Makmur (Penerbit Skh. Monitor Depok), November 2004 - 2008. v1