| | | BERITA UTAMA, 10-Okt-2008 07:18:35 WIB | | | Jamsostek incar sekolah di Depok | MARGONDA, MONDE: PT Jamsostek Cabang Depok membidik 500 lembaga penyelenggara pendidikan mulai dari sekolah anak usia dini hingga perguruan tinggi agar masuk menjadi peserta Jamsostek.
Kepala Bidang Pemasaran PT Jamsostek Cabang Depok Harri Kuswanda mengatakan sebagian besar lembaga pendidikan di daerah ini merupakan industri yang dikelola oleh yayayan.
Lembaga pendidikan itu selama ini belum tersentuh produk Jamsostek padahal lembaga tersebut mempekerjakan orang. “Kami tahun ini fokus mengajak lembaga pendidikan menjadi peserta Jamsostek,” katanya kepada Monde, kemarin.
Dia menjelaskan niat Jamsostek membidik sektor pendidikan agar menjadi peserta Jamsostek termasuk baru karena cabang-cabang lainnya belum mengambil sektor ini kendati peluang di bidang tersebut cukup bagus.
Menurut dia, hingga saat ini terdapat 500 sekolah swasta yang berdiri di Depok mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi, sementara setiap individu yang bekerja di lembaga tersebut harus dilindungi.
Pihaknya sudah melakukan berbagai langkah strategis, salah satunya memberikan proposal kepada sedikitnya 300 sekolah yang berisi kewajiban ikut Jamsostek, serta informasi tentang keuntungan jika bergabung ke perusahaan BUMN itu.
Namun, respon lembaga pendidikan di daerah ini masih minim. Baru 5% dari 300 sekolah yang memberikan respon positif, selebihnya belum memberikan balasan atas proposal yang dikirim.
“Prioritas kami saat ini adalah mengajak pengelola lembaga pendidikan di daerah ini untuk menjadi peserta Jamsostek karena kami melihat perkembangan sektor pendidikan cukup pesat,” katanya.
Ketika ditanya mengapa memilih sekolah swasta, dia menjelaskan sebagian besar para guru sekolah swasta belum mendapatkan perlindungan kerja karena status mereka berbeda dengan guru negeri yang telah mendapatkan jaminan dari negara.
Dia mengakui respon sekolah saat ini masih minim, namun pihaknya optimistis pengelola sekolah bakal bergabung menjadi peserta Jamsostek setelah mereka mengetahui manfaatnya. “Buktinya sejumlah sekolah swasta telah bergabung,” katanya.
Harri menambahkan setelah melakukan pendekatan emosional, pihaknya melihat minat sekolah untuk menjadi peserta Jamsostek mulai tumbuh kendati sejumlah pemilik atau pengelola sekolah memiliki pertimbangan lain.
Pertimbangan tersebut a.l kondisi yayasan mereka yang tidak cukup besar sehingga khawatir iuran Jamsostek tidak bisa berlanjut. “Mereka khawatir memikirkan bagaimana kelanjutan pembayaran iuran nantinya,” jelasnya.
Dia menjelaskan upah guru di sekolah swasta juga terbatas bahkan sebagian gaji yang mereka peroleh didasarkan pada banyaknya jam mengajar.
Untuk itu, agar program ini berjalan lancar, Jamsostek menjalin kerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS). “Sebab untuk menangani masalah ini, kami masih mengalami keterbatasan personil,” ujarnya.
Pengusaha
Di lain sisi, Jamsostek mengajak pengusaha di daerah ini benar-benar serius menjalankan tanggungjawabnya kepada pekerja dengan menjadi peserta Jamsostek. Dia mengakui, masih banyak perusahaan yang belum bergabung.
“Masih banyak perusahaan yang belum bergabung menjadi peserta Jamsostek, mungkin kondisi itu dilatarbelakangi situasi perusahaan itu sendiri sebab kendati banyak perusahaan di Depok, tappi sedikit yang mapan,” katanya.
Dia menambahkan mayoritas pengusaha jika mendengar soal program Jamsostek, yang langsung terbayang adalah biaya. “Karena bisa dikatakan, belum semua pengusaha di Depok itu mapan,” kata Harri. Saat ini sedikitnya 483 perusahaan yang bergabung menjadi peserta Jamsostek cabang Depok dengan nasabah mencapai 40.000 orang.(m-11/aji) |
|
|
|