| | | BERITA UTAMA, 28-Ags-2008 08:09:24 WIB | | | Gerombolan Bambu Runcing (14) Operasi militer bikin rakyat susah… | Beberapa tulisan sebelumnya, sumber cerita Adung Sakam laki-laki yang pernah dekat dengan Sengkud. Bahkan setiap minggu, dia menulis tentang sepak terjang Sengkud dan gerombolannya, manakala dia bertugas sebagai B1 alias mata-mata atau intel-nya Bintara Onder Distrik Militer (BODM).
Kiranya kita perlu tahu juga kisah hidup Pak Tua Adung. Kepada Monde, warga RT 04/01 Kampung Cipayung Kelurahan Abadijaya, Sukmajaya itu mengaku menjadi B1 karena diajak oleh Nisin, orang Kampung Cipayung.
“Di Kampung ini, waktu itu hanya saya dan Nisin yang jadi B1,” katanya.
Adung lupa, dia mulai aktif menjadi B1 sejak tahun berapa. Yang pasti semasa Gerombolan Bambu Runcing bergolak. Masa itu, Nisin menjabat sebagai Wakil Ketua BODM. Ketuanya bernama Dodo, orang Cibinong.
Paska padamnya pemberontakan Gerombolan Bambu Runcing di tahun 1953-1954, Indonesia menggelar pemilu pertama tahun 1955 disusul pemilihan kepala desa di berbagai daerah. Nisin-pun terpilih menjadi wakil kepala desa Cipayung. “Yang menjadi lurahnya Mualaim Lias.”
Mualim Lias masih ada hubungan saudara dengan Muhidin. Tapi secara ideologi berbeda jauh. Sekitar tahun 1952, Mualim pernah mengajak Muhidin ke Malau [sekarang kandang kuda samping Brimob Kelapa Dua—dulunya asrama tentara mantan KNIL].
“Setelah proklamasi, dibentuk Mobile Brigade [sekarang Brimob] atau disingkat MB. Sering juga diplesetin Militer Belanda. Mereka itu bekas KNIL yang diasramakan di Kelapa Dua,” kata Adung.
Mereka menuju Malau naik sepeda, Muhidin diboncengin Mualim. “Saat itu, sepak terjang Muhidin beserta gerombolan mulai terdesak. Mualim bilang ke Muhidin, dia akan mendapat perlindungan di Malau. Tapi Muhidin curiga, lalu dia pura-pura mau kencing, terus langsung kabur.”
B1 berada dibawah koordinasi BODM. Sejarah mencatat, tahun 1960-an BODM menjadi Puterpra/Buterpra (Perwira/Bintara Urusan Teritorial dan Perlawanan Rakyat). Kini menjadi Komando Rayon Militer (Koramil). BODM sendiri aktif di tahun 1950-an.
“Kerja kita setiap minggu bikin laporan tentang aktifitas gerombolan dan diserahkan ke BODM. Orang-orang satupun nggak ada yang boleh tahu kerjaan kita. Sifatnya rahasia,” ujar laki-laki tua yang mengaku umurnya mendekati 80.
Dijelaskannya, anggota BODM punya senjata empat jenis. LE [Lee Enfield] laras panjang, pistol cap kuda, granat belimbing dan stand gun.
“Waktu menjadi B1 saya dikasih senjata cap kuda. Kadang-kadang senjata itu dipegang ama Nisin, kadang-kadang saya yang pegang.”
Adung berhenti menjadi B1 setelah situasi tenang.” Saya menyatakan diri keluar dan memilih untuk menjadi tengkulak kerbau, usaha yang pernah dijalani orang tua. Apalagi kerja jadi B1 nggak digaji, mendingan jadi petani dan peternak,” tuturnya.
Di mana pun daerah yang dijadikan basis operasi militer, penduduk selalu mengalami kesusahan. Mau tak mau, mereka harus membantu operasi yang tentara jalankan. Bila tidak, mereka bakal susah sendiri. Atau, malah dianggap mendukung musuh tentara atau negara.
Sebelum, menjadi B1, Adung pernah aktif sebagai anggota Pemuda Desa (PD)—underbouwnya Barisan Pelopor. Pernah juga aktif menjadi laskar Hizbullah.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), Adung pernah ikut kerja Romusha. “Waktu kerja Romusha, saya dipaksa Jepang. Karena saat itu orang tua saya sakit, maka saya yang gantiin. Jepang itu bilang, satu rumah harus mengirimkan orang,” paparnya.
Adung mengenang dirinya pernah kerja Romusha di Rumpin, bikin lapangan terbang membabat hutan, sekarang jadinya Bandara Pondok Cabe. Lalu ikut bikin goa Jepang di Cigudeg, Jasinga, Bogor.(bersambung/Wenri Wanhar) |
|
|
|