Make this site your Homepage Add to Favorites
Pencarian berita  
Sabtu, 22 November 2008
 
BERITA UTAMA, 27-Ags-2008 07:12:38 WIB
_ Versi cetak _ Versi PDF
Gerombolan Bambu Runcing (13)
Cinta bersemi di tengah konflik
  Berita Lainnya
Pegi tetap akan kejar Mazhab
TPT: Nego harga sudah tertutup
Pulang sekolah, rumah hilang
Di balik aksi-aksi sporadis yang dilancarkan gerombolan, seperti misalnya membakar rumah Mandor Janim—anteknya Belanda di Sidamukti, merampok dan membunuh orang-orang yang berseberangan, terselip kisah cinta yang cukup unik.

Dikisahkan Adung Sakam, tahun 1952, Sengkud melangsungkan pernikahan dengan Rohimah anaknya Ki Kunang, orang Kampung Sugutamu. Rumah Rohimah tidak begitu jauh dengan rumah Sengkud.

Kala itu Rohimah termasuk gadis yang paling cantik di Kampung Sugutamu. “Orang-orang sih menyebut Rohimah bintang kampung. Sengkud emang lihai dalam mendapatkan perempuan,” kata Adung. Pernikahan itu, dilangsungkan tiga bulan pasca pembunuhan Sakam dan Kisam—ayah dan kakek Adung.

“Buat pesta perkawinan Sengkud, anak buahnya ngambil dua ekor kebo di tempat saya. Yang satu kebo kebiri—kebo yang badannya gede, satunya lagi kebo plen yang ukurannya biasa-biasa saja…” ujarnya.

Tidak hanya itu, dijelaskan Adung, anak buah Sengkud juga mengambil berkarung-karung beras dari gedung kongsi dagang Cimanggis [sekarang gedung tua di RRI, Sukmajaya].

Gudang beras itu milik tuan tanah Elisabeth, orang Belanda. “Mereka ngambilnya tengah malam. istilahnya ngegarong!”

Sebelum menikahi Rohimah, Sengkud sempat berpacaran dengan Neng Iyoh. “Neng Iyoh juga cantiknya bukan kepalang. Dia anaknya Haji Saman, juga orang Sugutamu. Tapi sayangnya Neng Iyoh berhasil digaet oleh Muhidin. Akhirnya Neng Iyoh dikawinin ama Muhidin,” ungkap Adung.

Masa itu Sengkud dan Muhidin sama-sama masih muda. Secara dunia Sengkud memang kalah segala-galanya dibandingin Muhidin. Kalah ganteng, kalah harta juga. Apalagi Muhidin pintar ngaji. Dia baru aja selesai belajar ngaji [istilah kini pesantren] di Pasar Jumat, gurunya Pak Edeng. Tentunya Haji Saman lebih senang ama Muhidin.

“Sejak itu Sengkud dan Muhidin mulai slek dah tuh. Apalagi setelah itu Muhidin masuk KNIL. Makin menjadi-jadi aja tuh permusuhan Sengkud dan Muhidin…”

Dikisahkan sebelumnya, Sengkud akhirnya berdamai dengan Muhidin, setelah Muhidin kabur dari KNIL dengan membawa serta sepucuk senjata stand gun lalu bergabung dengan pemuda yang dipimpin Sengkud dan menjadi Gerombolan Bambu Runcing.

Kisah menarik lainnya terjadi sekitar tahun 1953. Kesangaran Sengkud yang terlalu ditakuti ternyata membawa berkah. “Kejadian di tahun 1953 itu kelau diingat-ingat lucu juga,” ujar Adung sebelum memulai cerita. Dia tertawa terkekeh-kekeh. Padahal kisah belum dimulai.

“Waktu itu malam hari. Sekitar jam sembilan. Saya bersama Linan, Janim dan Banih lagi mau ngelancong, jalan-jalan ke Kampung Bojong [sekarang masih wilayah Kelurahan Abadijaya—Red].”

Zaman itu, gemerlap malam hanya diterangi sang rembulan. Belum ada lampu-lampu penerang jalan. Kawanan Adung, ditemani satu cahaya terang dari senter milik Linan. Berselimutkan hitamnya malam, rombongan itu berpapasan dengan seseorang.

“Saya dan kawan-kawan melintas di jalan. Sedangkan orang itu melintas dari arah berseberangan. Dia berjalan melangkahkan kaki di sela-sela kebon karet.”

Dibaluri rasa penasaran, Linan-pun mengarahkan senternya ke orang tersebut. Betapa kagetnya mereka ketika lampu senter tersebut tepat menerangi muka laki-laki yang kesohor galak. Laki-laki yang berjalan di kegelapan Kebon Karet itu ternyata Sengkud.

“Wah…langung pada ketakutan kita!?. Sengkud langsung teriak, ‘Siapa itu?’ lalu saya jawab, ‘Saya bang’. Sengkud nyamperin kita, dan langusng ngerampas senter Linan sambil menebas batang lehernya Linan pakai tangannya. Gerakannya sangat cepat. Dia memang jawara. Jago silat,” papar Adung.

Hanya satu pukulan, Linan langsung tersungkur mencium tanah. “Langsung ngejeprak Si Linan kena tangannya Sengkud. Orang kalau kena tangan dia [Sengkud] pasti jatuh. Kalau kagak, bisa-bisa Sengkud berguru lagi….”

Seketika itu juga, tanpa diberi aba-aba, Adung dan kawan-kawan langsung ambil langkah seribu.

“Saya ama Janim lari ke rumahnya Mang Saman Kojal, anggota gerombolan juga. Eh sampai di rumah itu, ternyata udah ada Sengkud lagi makan. Saya langsung kabur lagi dan ngumpet di kobakan (kolam kecil yang sudah tak ada airnya). Di dalam kobakan, saya dengar suara orang lagi menggigil gemeteran sambil berdoa, ‘Ya Allah tolongin aku’, saya dekatin ternyata Si Bani…”

Lain lagi dengan Si Linan. Dia kabur ke rumah Mandor Atan di Bojong. Kebetulan anaknya Mandor Atan yang namanya Siti, inceran-nya Linan.

“Si Linan emang demen ama Siti. Ternyata malam itu Kampung Bojong heboh. Linan ketangkep kawin oleh orang kampung. Sekarang udah beranak bercucu udah…”(bersambung/Wenri Wanhar)

^^ Kembali ke atas

Copyright © PT. Aksara Depok Makmur (Penerbit Skh. Monitor Depok), November 2004 - 2008. v1