Make this site your Homepage Add to Favorites
Pencarian berita  
Selasa, 13 Mei 2008
 
BERITA UTAMA, 9-Mei-2008 12:43:26 WIB
_ Versi cetak _ Versi PDF
Seusai UN SMP di Depok
Siswa 4 sekolah tawuran
  Berita Lainnya
Kemiskinan di Depok melonjak
Dewan: Pemkot belum maksimal
Parmin tewas terjatuh dari atap KRL
BEJI, MONDE: Berakhirnya Ujian Nasional (UN) tingkat SMP dihiasi tawuran antarpelajar dari empat SMP yang berlokasi di Depok. Seorang ibu jadi korban.

Mirip adegan laga kolosal, puluhan siswa itu bertarung di atas gerbong Kereta Api Listrik (KRL). Meriahnya hujan batu dan sorak-sorai ledekan tak hanya memakan korban para siswa tapi juga Rosadah (39), ibu itu mengalami luka robek di pelipisnya akibat terkena lemparan batu. Korban langsung dilarikan ke Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) UI yang selanjutnya dibawa ke RS Tugu Ibu, Cimanggis untuk diobati secara intensif.
“Kita langsung larikan korban ke RS Tugu Ibu untuk dirawat lebih baik,” ucap Namin salah satu petugas keamanan UI.
Sedikitnya lima orang siswa dari SMP yang berbeda terjaring oleh petugas saat peristiwa tawuran tersebut berlangsung.
Tiga orang tertangkap di Stasiun UI dan dua orang di Stasiun Pondok Cina.
Menurut Ak, salah satu siswa SMP Pelita yang tertangkap petugas stasiun UI, awal tawuran terjadi saat segerombolan siswa SMP Karya Bakti memasuki kereta, dengan sebelumnya melempari batu siswa Pelita yang ada di dalam kereta.
“Saat lagi naik kereta dari stasiun UP mau balik ke Depok, waktu di Stasiun UI, kami dilempari batu pas lewat kolong jembatan UI. Kemudian, saat masuk Stasiun UI, siswa dari Karya Bakti masuk ke dalam kereta. Mungkin mau malak, kami panik terus keluar eh…malah ditangkep petugas,” ceritanya.
Sementara itu, dua orang siswa, Rd dan Fb dari SMP Bina Insan Mandiri dan SMP Kasih, ditangkap petugas di Stasiun Pondok Cina, lalu diamankan di Gedung Biru Kampus UI.
Menurut keterangan Rd siswa SMP Bina Insan Mandiri, dirinya mengaku dilempari batu oleh siswa SMP Putra Bangsa saat kereta yang ditumpanginya melewati kolong jembatan UI.
“Banyak siswa Putra Bangsa (PB) yang ngelemparin batu dari bawah. Walaupun nggak banyak kami juga bales lempar batu, saat masuk Stasiun UI kita terus lari sampai Pondok Cina, soalnya mereka sempet ngejar ke arah stasiun UI,” ujar Rd yang saat itu tampak rambutnya penuh coretan cat.
Para petugas kemanan sepakat untuk memanggil orang tua siswa yang terlibat tawuran untuk diberikan pembinaan lebih lanjut.
Tawuran pelajar SMP boleh jadi akibat tekanan psikologis pelaksanaan UN.
Cermin kehidupan
Menanggapi tawuran ini, seorang Psikolog UI, Dr. Hamdi Muluk mengatakan pelaku tawuran tidak bisa menjadi satu-satunya subjek yang disalahkan.
“Pelaku bisa juga menjadi korban cerminan kehidupan sosial kemasyarakatan kita saat ini,” katanya.
Dijelaskannya, saat anak-anak seusia SMP menyaksikan sejumlah kekerasan di tengah masyarakat, mereka bisa saja menilai dan menafsirkan dengan berbagai cara.
“Pengaruhnya bagi mereka [anak-anak SMP] sangat beragam juga. Dan hal itu terkait pengontrolan diri dan penalaran masing-masing,” kata Hamdi.
Dia menambahkan, saat ingin mencari atau menganalisis pihak yang dianggap paling bertanggung jawab, kasus ini juga harus melihat latarbelakang dari pelaku.
“Sisi historis sekolah juga berperan dalam membentuk in group feeling, yang disasari oleh solidaritas antarteman satu sekolah. Dimana basis identitas sekolah dengan sendirinya dijadikan sesuatu yang menyatukan mereka,” tandas Hamdi.
Sementara yang menjadi pemicu, menurut Hamdi, juga berasal dari banyak hal seperti suporter sepakbola atau sekadar kepentingan pribadi semata.
“Ekspresi emosi dari
anak-anak seusia mereka bisa berawal dari sugesti sederhana. Ketika menyelesaikan UN bisa hanya sekadar teriak-teriak, bermain bergerombolan dan saat kontrol diri lepas, sisi violence [kekerasan] bisa terjadi,” ujarnya.
Untuk persoalan seperti ini, dia mengatakan semua pihak harus ikut bertanggung jawab. Kurangnya eksekusi maupun sangsi dari tawuran yang dianggap sebagian orang sudah tradisi itu, bisa juga membuat kasus ini cepat terlupakan tanpa solusi yang jelas.
“Kehidupan sosial masyarakat, penegak hukum, sekolah, orangtua dan semua pihak harus ikut bertanggung jawab,” kata Hamdi. (why/mr)


^^ Kembali ke atas

Copyright © PT. Aksara Depok Makmur (Penerbit Skh. Monitor Depok), November 2004 - 2008. v1