| | | AJANG DUIT, 15-Mei-2008 12:38:55 WIB | | | Antara perajin Bali dan Depok Bertahan hidup dengan ukiran | Bali memang tidak sama dengan Depok, tapi banyak nilai positif yang bisa diambil untuk mendorong produktivitas masyarakat lokal misalnya hebatnya Pulau Dewata menjadikan ukiran batu padas sebagai kegiatan ekonomi.
Bali merupakan kota yang mampu mengeksplor budayanya dan memperkenalkannya keluar. Kekentalan budaya itulah yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi turis asing maupun domestik. Berjalan mengitari pulau dewata itu sepanjang mata memandang tak lepas dari nuansa seni. Patung-patung ukiran batu nan indah dan menawan mengundang hati berdecak kagum.
Suatu malam di akhir pekan lalu, saya berjalan-jalan di kawasan sekitar pantai Nusa Dua. Naluri saya tiba-tiba menghentikan langkah di depan seorang pemuda yang tengah serius mengukir sebilah batu di antara gelaran karya yang didagangkannya.
Setelah berbincang sedikit banyak, belakangan saya mengetahui laki-laki lajang yang dibungkus pakaian adat Bali itu adalah seniman Bali yang tak ingin budaya leluhurnya hilang terhempas derasnya ombak modernisasi.
I Ketut Sunadi namanya. Dia menekuni kerajinan ukiran batu padas atau biasa disebut para bule stone carving sejak masih kanak-kanak. Darah seni mengalir dari ayahnya, I Nyoman Rau.
Sejak umur delapan tahun, sewaktu duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar, dengan sepenuh hatinya, laki-laki kelahiran Batu Bulan, Sukawati, Gianyar 11 April 1979 ini memperdalam ilmu seni ukir.
Tak puas hanya belajar dari sang ayah. Tamat SMP dia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Seni Rupa Negeri 1 Sukawati. Kehandalannya semakin bertambah. Begitu lulus di tahun 1998, dengan modal pas-pasan, dia langsung membuka lapak seni di Nusa Dua, tempat saya menemuinya.
“Saya mangkal disini 10 tahun. Biasanya saya mulai menggelar dagangan pukul lima sore sampai pukul 10 malam. Setiap harinya seperti itu,” ujarnya.
Di lapaknya berjejer beraneka ukiran batu padas yang bernilai seni tinggi. Detail buah karya tangannya boleh diadu.
Aneka ukiran seperti Dewa Ganesha, Brahma Wisnu, Hanoman, Budha, Kodok, Kura-kura, Batik, Kembang, Bunga, Daun dipajangnya diatas selembar kain.
Harga yang dipatok untuk antik karyanya itu pun tak terlalu mahal, kisaran Rp50.000-Rp300.000. Jika ingin patung yang lebih besar dia menerima pesanan.
“Kalau tinggi dan besar batunya disambung. Jika tinggi 60 cm, Rp800.000-an dan 1 M Rp1.2 juta.”
Melihat perjalanan perajin ini, saya jadi teringat dengan Depok. Perajin Kota Depok barangkali tidak secanggih perajin di Bali, namun potensi yang bisa dikembangkan.
Saya melihat potensi kerajinan anyaman bambu, rotan, jati dan industri kerajinan lainnya mulai tumbuh di Depok. Kalau Bali bisa melakukannya, kenapa masyarakat Depok tidak.(Wenri Wanhar) |
|
|
|