| | | OPINI, 10-Okt-2008 07:56:20 WIB | | | Krisis global dan potensi rugi Jamsostek Parwito | Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terpuruk hingga Rp9.600 per US$ dan IHSG (indeks harga saham gabungan) di Bursa Efek Indonesia dalam tiga hari kerja pekan ini membuat ancaman krisis finansial global menjadi semakin nyata. Indonesia tidak bisa menganggap enteng lagi dampak negatif dari krisis tersebut.
Bursa Efek Indonesia Rabu lalu menghentikan seluruh transaksi saham, termasuk transaksi derivatifnya, guna mencegah kejatuhan indeks yang lebih parah lagi. Ini kali kedua otoritas bursa menghentikan transaksi. Yang pertama, saat bom meledak di lantai gedung BEJ beberapa tahun silam. Apa makna penutupan transaksi ini? Jawabannya satu, dampak krisis finansial global sudah di depan hidung. Penurunan indek lebih dari 22% hanya dalam tiga hari transaksi setelah liburan lebaran sungguh membuat kelimpungan para pelaku dan pemain di pasar saham.
Grup Bakrie yang mencatatkan enam perusahaannya di BEI, harga saham perusahaannya anjlok luar biasa. Ditambah lagi kasus kadai saham yang membuat investor makin menjauh dari saham Bakrie. Namun yang membuat hati kita berdenyut lebih kencang adalah potensi rugi yang bakal dialami PT Jamsostek. Perusahaan yang menampung dana asuransi jaminan tenaga kerja ini berpotensi rugi hingga Rp5,4 triliun. Wuihhh…
Saat bursa melambung seperti tahun lalu, hasil yang diperoleh memang lumayan. Namun saat harga saham terpuruk, Jamsostek juga bakal ikut terpuruk. Penempatan dana investasi memang harus tunduk pada satu hukum: high return high risk, low return low risk. PT Jamsostek sebagai BUMN yang mengelola dana para pekerja memang seperti gadis cantik di mata para fund manager. Para pelaku bursa atau orang-orang bursa selalu berusaha melobi pemerintah agar BUMN diberi keleluasaan yang lebih besar untuk investasi di bursa.
Regulasi yang lebih longgar kepada Jamsostek untuk berinvestasi di bursa memang mengandung risiko seperti ini. Tidak ada yang bisa mengelak. Masalahnya, apakah manajemen PT Jamsostek telah mengambil keputusan secara bertanggung jawab ketika memutuskan besarnya nilai investasi di bursa? Apakah saham-saham yang diborong Jamsostek memang mempunyai fundamental yang kuat? Penelusuran terhadap keputusan investasi Jamsostek di saham ini harus dapat diaudit sehingga para pihak yang berkepentingan mempunyai keyakinan bahwa amanat yang diberikan kepada direksi tidak disalahgunakan. Mengapa ini penting? Sebab selama ini, masyarakat tahu Jamsostek sering menjadi ajang bancakan para pencoleng ekonomi. Dalam melakukan aksinya, para pencoleng tersebut selalu bermain mata dengan direksi. Berapa banyak pejabat Jamsostek yang akhirnya berhadapan dengan meja hijau?
Sebagai institusi yang mengelola uang rakyat, uang para pekerja, sudah seharusnya PT Jamsostek lebih mengedepankan prinsip kehati-hatian atau lebih konservatif dalam memutuskan pilihan investasi. Sebab bagi para peserta, yang lebih penting adalah keamanan uang yang mereka setor ke Jamsostek dibandingkan dengan nilai akumulasi hasil investasi.
Kita percaya Hotbonar Sinaga, direktur utama Jamsostek, mempunyai itegritas yang tinggi. Tapi siapa bisa menjamin bahwa ‘tikus-tikus Jamsostek’ sudah tidak ada lagi? Untuk itulah pertanyaan publik harus dijawab.
Lebih konservatif
Sebuah pemilik warung makan di Jalan Arteri Pondok Indah yang karyawannya sudah di atas 50 orang mengakui bahwa dia sengaja tidak membuat seragam khusus untuk karyawannya karena takut didatangi petugas Jamsostek. Sebab begitu karyawan berseragam, orang-orang Jamsostek segera mendatangi pemilik usaha untuk meminta mereka mengikutsertakan karyawannya ke Jamsostek.
Pelayanan PT Jamsostek kepada para karyawan yang berhak memperoleh manfaat sebagai peserta Jamsostek sering tidak memuaskan. Selain birokratis, prosedurnya juga terlalu rumit bagi karyawan atau buruh. Selain itu, sebagai peserta Jamsostek, para pekerja hampir tidak mempunyai mekanisme untuk mengontrol perilaku manajemen maupun keputusan-keputusan yang diambil oleh manajemen. Sebab sebagai BUMN, Jamsostek hanya dapat dikontrol oleh pemerintah selaku pemilik.
Namun sebagai institusi yang mengelola uang rakyat, uang para pekerja, sudah seharusnya PT Jamsostek lebih mengedepankan prinsip kehati-hatian atau lebih konservatif dalam memutuskan pilihan investasi. Sebab bagi para peserta, yang lebih penting adalah keamanan uang yang mereka setor ke Jamsostek dibandingkan dengan nilai akumulasi hasil investasi.
Jamsostek meski didukung dengan peraturan perundang-undangan yang mewajibkan setiap perusahaan dengan omzet dan jumlah karyawan tertentu mengikuti program asuransi tenaga kerja, faktanya banyak di antara mereka menghindar. Penolakan untuk masuk Jamsostek harus dilihat sebagai rendahnya kepercayaan dunia usaha kepada Jamsostek. Kita berharap manajemen Jamsostek tetap amanah. |
|
|
|