Make this site your Homepage Add to Favorites
Pencarian berita  
Sabtu, 22 November 2008
 
OPINI, 08-Okt-2008 08:00:27 WIB
_ Versi cetak _ Versi PDF
Hadapi gejolak dengan ekonomi kerakyatan
  Berita Lainnya
Century, satu fragmen risiko likuiditas
Makna nilai korporat
Ada apa dengan LSM...?
Proses negoisasinya sendiri berjalan alot di Kongres walaupun pada akhirnya DPR Amerika Serikat menyetujuinya. Tentu terdapat detail, termasuk transaksi politik antara Partai Republik dan Partai Demokrat yang tidak sepenuhnya diketahui publik. Besaran utang sendiri belum diketahui secara pasti, yang jelas jauh lebih tinggi dari angka US$700 miliar.

Ada yang menyebut sekitar US$2 triliun hanya untuk kategori kredit perumahan (subprime mortgage), dan US$1 triliun untuk kategori utang Alt-A. Rencana spesifik penggunaan dana tersebut belum diketahui, di samping pencairan yang pasti tidak dilakukan sekaligus. Pembayar pajak akan terus bersoal atas hak-hak mereka, terutama tuntutan atas pembatasan gaji maksimal eksekutif keuangan.

Hal ini akan memperlambat pemulihan kepercayaan masyarakat. Krisis ekonomi keuangan di AS akan menyulut resesi global. Pertumbuhan GDP riil dunia diprediksi turun di bawah 2,7% pada tahun ini. Inflasi tinggi dipacu oleh harga minyak dan kenaikan harga pangan serta produksi melamban menuju kondisi stagflasi.

Indonesia pasti terkena dampak. Pertama adalah gangguan atas kinerja ekspor. Seperti diketahui, Amerika dan Jepang masih merupakan pasar utama tujuan ekspor nasional. Pada 2007, pangsa ekspor nonmigas ke Amerika dan Jepang masing-masing 12,4% dan 15,2%. Ledakan pengangguran yang terjadi di Amerika Serikat akan sangat menurunkan daya beli masyarakat negara itu.

Menurut angka-angka Departemen Tenaga Kerja AS, rasio pengangguran tahun ini mencapai lebih dari 6,1% dan merupakan angka tertinggi selama lima tahun terakhir. Kalau tidak tumbuh negatif, ekonomi AS akan stagnan. Jepang terkontaminasi oleh keadaan tersebut. Ini terjadi karena intensitas perdagangan antara Jepang dan AS sangat tinggi, di samping lembaga-lembaga keuangan Jepang banyak yang terasosiasi dengan lembaga keuangan AS yang sedang kolaps.

Pada Juli, surplus neraca perdagangan Jepang terpangkas US$1,28 mencapai penurunan 90% dari angka tahun lalu. Pertumbuhan ekonomi melambat di bawah 1,5%. Artinya, Jepang tengah memasuki resesi ekonomi.

Diversifikasi pasar

Karena itu, ketergantungan pada Jepang dan AS sebagai tumpuan tujuan ekspor akan sangat berisiko. Diversifikasi pasar sangat diperlukan. Belakangan ini peran pasar China dan India menunjukkan peningkatan, tetapi kontribusinya masih rendah. Dua negara ini memiliki jumlah penduduk yang sangat besar, karena perlu dieksploitasi secara intensif.

Di luar itu harus dikembangkan kawasan lain, seperti Timur Tengah yang kaya dengan likuiditas dan juga pasar di Eropa Timur yang belum tersentuh. Sentimen religius dengan negara-negara Timur Tengah perlu dibangkitkan untuk membangun kegiatan dagang yang lebih intensif. Barang-barang dari China justru membanjiri negara itu. Tantangan kita adalah bagaimana memproduksi barang yang bisa bersaing dengan China, harga murah dengan kualitas lumayan.

Khusus untuk sektor pertanian perlu perhatian ekstra karena lebih dari 45% penduduk kita bergantung pada mencari nafkah di sektor pertanian. Kontribusi langsung terhadap ekspor masih rendah, yakni sekitar 3,9% pada 2007. Namun, angka sesungguhnya jauh lebih tinggi dari itu karena sebagai bahan baku industri angka masuk dalam sektor industri, misalnya kelapa sawit atau produk olahan karet.

Produk ekspor komoditas pertanian yang penting antara lain udang dan produk olahannya, biji cokelat, kopi, tuna, dan produk perikanan lain. Udang memberikan kontribusi paling besar dengan pangsa sekitar 27%, kemudian diikuti oleh cokelat dan kopi masing-masing sekitar 18% dan 16,5%. Diversifikasi produk juga sangat penting agar tidak bergantung pada komoditas tertentu.

Produk hortikultura dan produk pangan lain perlu dikembangkan secara maksimal. Pengembangan agroindustri sangat penting terutama untuk menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatan nilai tambah bagi ekonomi lokal. Ekspor dalam bentuk segar tanpa diolah hanya akan memberikan margin bagi rantai manajemen di negara tujuan ekspor dan kurang dinikmati oleh produsen lokal.

Krisis ekonomi global ini seharusnya juga menyadarkan kita bahwa Indonesia tidak boleh mengandalkan sepenuhnya pada pasar eksternal. Bila pasar ekternal kolaps maka secara otomatis akan menghantam ekonomi nasional.

Indonesia, dengan penduduk lebih dari 210 juta jiwa, sesungguhnya merupakan pasar yang sangat besar. Banyak negara lain yang justru mengincar pasar nasional. Produk China membanjiri pasar domestik, termasuk produk susu tercemar yang tengah heboh. Demikian juga halnya dengan produk buah-buahan asal Australia, begitu ramah di meja kita.

Kita jangan membiarkan potensi pasar dalam negeri dieksploitasi negara lain. Karena itu, upaya memperkukuh pasar dalam negeri merupakan keharusan. Strategi export led harus diimbangi dengan domestic market orientation.

Kita berbeda dengan Singapura atau Taiwan yang luas negara dan jumlah penduduknya kecil, sehingga dengan sendirinya tiada pilihan lain selain fokus pada pasar internasional. Negara besar seperti India dan China sebelum berjaya di pasar global lebih dulu memantapkan basis pasar di dalam negeri. Indonesia juga merupakan negara pasar besar, seperti China atau India.

Salah satu syaratnya adalah daya beli masyarakat lokal harus ditingkatkan. Kebijakan ekonomi yang pro rakyat kecil dan pro kaum miskin harus diprioritaskan. Kampanye penggunaan produk dalam negeri seyogianya menjadi program unggulan pemerintah. Pengembangan industri perdesaan berbasis pertanian dengan pemanfaatan sumber daya alam secara berkesinambungan semestinya menjadi prioritas.

Pengembangan sektor ekonomi kerakyatan semacam ini akan meletakkan dasar-dasar ekonomi yang kenyal dan tahan guncangan. Terbukti pada saat krisis 1997 sektor ekonomi rakyatlah yang telah menyelamatkan ekonomi dari kehancuran ketika ekonomi konglomerasi luluh lantak didera kebangkrutan finansial.

^^ Kembali ke atas

Copyright © PT. Aksara Depok Makmur (Penerbit Skh. Monitor Depok), November 2004 - 2008. v1