Make this site your Homepage Add to Favorites
Pencarian berita  
Sabtu, 22 November 2008
 
OPINI, 26-Ags-2008 07:58:47 WIB
_ Versi cetak _ Versi PDF
Terkatung-katung dalam ekonomi global
Erna S. U. Girsang
  Berita Lainnya
Century, satu fragmen risiko likuiditas
Makna nilai korporat
Ada apa dengan LSM...?
Kondisi itu menunjukkan sejumlah negara maju lebih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi, seperti mengatasi lonjakan angka pengangguran dan menghindar dari ancaman krisis keuangan, dibandingkan dengan tekanan inflasi.

Selebihnya, negara-negara di dunia masih menahan kebijakan agresif sambil mengawasi perkembangan inflasi dan laju ekonomi global.

Direktur Perencanaan Makro Kemeneg PPN/Bappenas Bambang Prijambodo mengatakan memasuki masa terjadinya kecenderungan lonjakan harga minyak mentah dunia dan harga komoditas pangan, terutama sejak Semester II 2007, negara-negara dunia terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama adalah sekumpulan negara yang mengalami dampak langsung dari macetnya kredit kepemilikan rumah (subprime mortgage), seperti di Amerika Serikat, Inggris dan Kanada. Kelompok kedua adalah negara-negara yang ikut tertekan, tetapi tidak langsung, seperti negara-negara di Asia, termasuk Indonesia.

“Kedua kelompok ini mengalami gangguan hubungan sektor keuangan ke sektor riil. Kalau tidak diamankan akan berbahaya. kelompok pertama menurunkan suku bunga, meskipun ada ancaman inflasi tinggi,” ujarnya, kepada Bisnis, pekan lalu.



Berbeda dengan negara-negara yang langsung terkena subprime mortgage, negara di luar itu, seperti Asia dan Eropa masih menjadikan stabilitas harga menjadi sasaran utama, sehingga mempertahankan suku bunga tetap berada di atas realisasi laju inflasi. Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga dari 4,0% menjadi 4,25% pada Juli 2008.




Suku bunga rendah ditargetkan dapat mengamankan sektor keuangan dan mengatasi kredit macet kepemilikan rumah, karena kalau dinaikkan malah semakin buruk dampaknya.

Dia mencontohkan ketika AS memproyeksikan menaikkan suku bunga, dampaknya langsung signifikan pada sektor ekonomi, yaitu adanya lonjakan angka pengangguran. Akhirnya Bank Sentral AS menunda kebijakan menaikkan suku bunga dan mempertahankan, suku bunga 2,5%.

“Ada urgensi aspek lain, ketika melonggarkan suku bunga, yaitu ternyata pengangguran meningkat, ekonomi melambat. Jadi ditunda dulu sampai sektor keuangan aman,” jelasnya.

Dua negara lain yang juga menurunkan suku bunga adalah Kanada, yaitu dari 4,5% pada November 2007, menjadi 3,0%. Target suku bunga, atau suku bunga acuan di Inggris juga diturunkan dari 5,75% pada November 2007, menjadi 5,0% pada April 2008. Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ), pekan ini juga memutuskan mempertahankan suku bunga pada level 0,5%, dalam pertemuan kebijakan keuangan, yang berlangsung di Tokyo.

Laporan Hasil Pertemuan Bank Sentral dan Pemerintah Jepang, yang dikutip Bisnis, dari situs resmi BoJ, menyebutkan laju inflasi inti (di luar makanan segar) di negara itu saat ini sekitar 2%, angka tertinggi sejak pertengahan 1990. Lonjakan inflasi terjadi akibat kenaikan harga minyak mentah dan makanan di pasar internasional dan berdampak pada harga yang berlaku di dalam negeri.

Menjelang akhir Juli, terjadi penurunan harga minyak mentah, diikuti penurunan harga komoditas pangan.

Stabilitas harga

Berbeda dengan negara-negara yang langsung terkena subprime mortgage, negara di luar itu, seperti Asia dan Eropa masih menjadikan stabilitas harga menjadi sasaran utama, sehingga mempertahankan suku bunga tetap berada di atas realisasi laju inflasi. Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga dari 4,0% menjadi 4,25% pada Juli 2008.

Perbedaan kebijakan negara kelompok pertama dan kelompok kedua itu, menunjukkan bahwa negara-negara di dunia masih memusatkan perhatian kepada pertumbuhan ekonomi dan inflasi global, kecuali jika ada kejadian tidak normal, misalnya suatu negara sudah masuk kepada krisis keuangan, seperti Zimbabwe yang mengalami inflasi 2,2%, sehingga negara itu melakukan pemotongan nilai mata uang.

Di sisi lain, saat ini sudah ada sinyal positif dari perekonomian dunia, yaitu melemahnya harga minyak dunia dan sejumlah komoditas. Pelunakan harga ini juga merupakan pengaruh dari perlambatan ekonomi yang telah berlangsung sejak akhir 2007.

^^ Kembali ke atas

Copyright © PT. Aksara Depok Makmur (Penerbit Skh. Monitor Depok), November 2004 - 2008. v1