| | | OPINI, 22-Jul-2008 08:39:34 WIB | | | Dominasi partai Moncong Putih | Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) boleh jadi berbunga-bunga, setelah
dalam sebulan ini sejumlah lembaga survai mendaulatnya sebagai partai berperingkat satu. Bahkan Ketua Umumnya Megawati Soekarnoputri juga ikut mendulang dukungan teratas, mengalahkan jago-jago yang ada.
Adalah Indo Barometer dan Center for Strategic and International Studies (CSIS), yang baru saja merilis hasil survainya. Dalam survai Indo Barometer terhadap 34 parpol peserta Pemilu 2009, dengan 1.200 responden, menunjukkan, posisi PDIP menduduki peringkat teratas, disusul Golkar, Demokrat, PKS, dan PKB. Sementara PPP, PAN, PDS, PBR dan PBB, terpental di lapisan lima besar kedua.
Begitu pula survai yang dilakukan CSIS, dimana para pemilih akan menjatuhkan pilihan pada PDI-P, lalu Golkar, PKS, PKB, Partai Demokrat, PPP, PDS, PBR dan PAN.
Pendek kata, tak bisa dipungkiri, reputasi PDIP sedang naik daun. Sehingga wajar bila dalam survai terakhir partai Moncong Putih ini menduduki peringkat pertama.
Makna survai
Apapun, survai adalah survai, ilmu statistik yang menyajikan kebenaran di atas angka. Tinggal bagaimana memaknai kemenangan di atas angka itu menjadi kenyataan.
Membaca hasil survai di atas paling tidak kita bisa menangkap beberapa makna. Pertama, kemenangan PDIP sebesar 23,8% menurut hasil survai Indo Barometer atau 20,3% menurut CSIS bukanlah sebuah mayoritas tunggal. Bandingkan dengan kemenangan PDIP pada Pemilu 2004 sebesar 33,7% tak mampu mengantarkan Megawati untuk menduduki posisi RI-1, sebenarnya dukungan suara atas PDIP menurun.
Kedua, hanya saja penurunan yang dialami PDIP tidak sedrastis Golkar yang pada Pemilu 2004 mampu menangguk dukungan 21,58%. Dalam survai Indo Barometer dan CSIS ini Golkar hanya mendulang dukungan masing-masing 12% dan 18,1%. Jadi dominasi PDIP juga dikontribusi oleh penurunan suara Golkar yang signifikan.
Ketiga, faktor Megawati yang rajin beranjang sana ke pelosok-pelosok di tanah air pasca Pemilu 2004. Setelah tak menjadi Presiden, praktis Megawati punya banyak waktu untuk menemui konstituennya.
Keempat, sikap oposisi PDIP di legislatif maupun di DPP terhadap kebijakan pemerintah yang cenderung menyengsarakan rakyat ikut memberi kontribusi dominasi partai Moncong Putih dalam survai-survai.
Kelima, banyaknya tokoh parpol lain yang ditangkapi KPK karena ditengarai terlibat tindak pidana korupsi, kecuali PDIP dan PKS, membuat pamor partai Moncong Putih bisa bertahan paling tidak untuk saat ini. Lain halnya jika dikemudian hari ada bukti yang mengarah pada anggota PDIP, maka sedikit banyak akan mengurangi pamor partai Moncong Putih. Termasuk skandal Max Moein dan sekretaris pribadinya, sedikit banyak telah menggerogoti pamor PDIP.
Keharusan koalisi
Tidak bisa tidak, kemenangan PDIP dan sosok Megawati dalam berbagai survai hanyalah sebuah sinyal bahwa untuk menghadapi Pemilu 2009 partai Moncong Putih itu harus berkoalisi.
Pertanyaannya, koalisi dengan siapa dan dari partai mana? Harus diakui sosok Megawati kini menjadi tumpuan sebagian besar rakyat yang disurvai Indo Barometer 30,4% maupun CSIS 23,2%.
Pertanyaannya, apakah dengan perolehan peringkat pertama Megawati akan tampil sendiri atau bekoalisi, disinilah masalahnya. Kemanangan itu bukan mayoritas tunggal, sehingga koalisi menjadi keharusan.
Jika melihat soliditas partai yang belakangan ini sedang bersinar adalah PKS, Golkar, PPP, PKB, dan PAN. Sementara yang acceptabel-nya tinggi tentu Golkar, PKB, PPP. Sedangkan dari segi figur, tentu sosok Jimly Ash-Shidiqie, Hidayat Nur Wahid, Din Syamsuddin, Akbar Tanjung, Jusuf Kalla dan Prabowo, merupakan sosok-sosok yang sangat mungkin disandingkan dengan Megawati.
Tapi semua itu berpulang setelah Pemilu 2009, setelah semua settle, berapa banyak dukungan nyata yang masing-masing partai peroleh. Kalau PDIP misalnya didukung 51%, maka otomatis tidak memerlukan koalisi lagi. Tapi nyatanya PDIP memang mayoritas, hanya saja bukan mayoritas tunggal.
Lantas bagaimana dengan prospek koalisi PDIP-Golkar? Tentu itu juga sebuah catatan. Pertemuan besar kedua partai besar ini di Palembang dan Medan, telah mengarah kepada koalisi. Namun koalisi itu kembali hablur seiring dengan berjalannya waktu.
Boleh jadi proses pendekatan kepada tokoh-tokoh faksi Golkar yang belum tuntas atau bahkan gagal, sehingga membuat prospek koalisi itu menjadi mentah kembali.
Sempat juga digagas Liga Nasional yang beranggotakan PDIP, Golkar, PPP dan PAN. Rencana itu pun hanya terealisi pada beberapa pilkada, ketika dibawa pada forum yang lebih luas untuk berembuk secara nasional, ternyata perhatian terpecah-pecah.
Sementara ada juga usulan-usulan agar PDIP berkoalisi dengan PKS, dimana kedua parpol ini sama-sama memiliki massa yang militan. Satu militansinya kepada ideologi nasionalisme, satunya lagi ideologi agamis. Dulu ayahanda Megawati, Soekarno, bahkan mampu mengawinkan ide nasionalisme, agama, dan komunisme ke dalam Nasakom. Tapi sekarang berbeda dan cenderung sulit untuk dilakukan.
Jadi idealnya PDIP berkoalisi dengan PKS, tapi apakah PKS-nya mau, terutama massa PKS yang sangat Islami dimana figur pemimpin sudah ditetapkan harus laki-laki. Sementara PDIP sudah jauh-jauh hari menggadang-gadang Megawati sebagai calon Presiden.
Jadi upaya-upaya koalisi itu sebenarnya sudah ditempuh PDIP sebagai partai dominan dengan segala plus minusnya. Tinggal bagaimana partai Moncong Putih ini meramu pasangan koalisi yang tepat sehingga dapat memaksimalkan kemenangan. |
|
|
|