Print
Tematik
Pertahankan kesenian dengan kejujuran
17-Mei-2008 12:46:0
Sejak umur delapan tahun, saat masih duduk di kelas dua sekolah rakyat (SR), Buang Jayadi mulai meminjakkan kaki ke dunia seni. Ketika itu dia melebur ke kelompok kesenian Gong Si Bolong.
Sejak itu, berbagai pertunjukan seni telah dilakoninya. Menimba pengalaman dari satu kelompok ke kelompok lain membuatnya matang dalam berbagai kesenian tradisional masyarakat Depok.

Di balik kematangannya itu, laki-laki yang kini dipercaya memegang tampuk kepemimpinan kesenian tradisional Depok, Gong Si Bolong, tak pernah lupa akan nilai-nilai yang ditanamkan oleh para leluhurnya, yakni kejujuran, setia, sederhana dan menghormati orang tua.

Nilai-nilai itulah yang kemudian membuat Buang hingga hari ini masih bertahan dan berjuang mempertahankan kesenian tertua di Kota Depok itu. Berbagai sumber menyebutkan Gong Si Bolong mulai ditemukan sejak tahun 1913.

Kakek dari lima orang cucu ini, lahir di Tanah Baru, Beji, 14 April 1946 dari rahim Inem binti Niang. Bapaknya Kisim bin Sajo. Sajo merupakan murid langsung dari Guru Daiyah—orang yang membuka perkampungan Tanah Baru yang semula masih berupa hutan belantara pada abad ke-14.

Guru Daiyah pulalah yang menyebarkan agama Islam lama—Islam yang bercampur dengan faham animisme di wilayah tersebut. Tahun kedatangannya ke Tanah Baru berbarengan dengan pembangunan pesantren Quratul Ain, Tanjung Pura, Kerawang oleh Syekh Quratul Ain.

Syekh Qura merupakan guru mengajinya Dewi Subang Larang, istri dari Prabu Agung Jaya Dewata atau yang kemudian dikenal dengan nama Prabu Siliwangi.

Tahun 1973 nama Buang ditambahkan dengan Jayadi. Penambahan nama itu setelah Pak Buang melakukan perjalanan spiritual ke Giri Jaya, Cicurug, Sukabumi. Hingga namanya menjadi Buang Jayadi.

“Atas saran dari sesepuh disana yang bernama Tubagus Udin Mastaka Wijaya atau yang dikenal juga dengan nama Mbah Santri. Katanya agar kesenian Gamelan Gong Si Bolong mengalami kejayaan,” kata C Supandi, sejarahwan Depok saat Monde berbincang dengan Buang di kediamannya.

Nama buang pun ada sejarahnya. Sebelumnya kedua orangtuanya memberi dia nama Rian. Lantaran sakit-sakitan, dia dibuang ke dalam pengki oleh ibunya dan dipungut oleh uwak, sejak itu namanya menjadi Buang.

Buang kecil sangat patuh dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Dia selalu membantu aktifitas orang tuanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga. “Orang tua saya tani, saya ikut tani. Orang tua saya dagang ikan, saya ikut dagang ikan,” kisahnya.

Selain membantu orang tuanya, Buang kecil, juga keluar rumah mengais rezeki untuk membayar sekolah. “Dulu saya senuntut ilmu di SR Pondok Cina. Satu angkatan dengan Ketua DPRD Depok sekarang, Naming D Bhotin. Gedung sekolahnya bangunan tua yang sekarang menjadi kafe Oh La la di Margo City...” tuturnya.

“Saya nggak pernah ngelawan sama orang tua. Mau dimarahin gimana kek saya tetap diam aja. Saya mah nurut, karena di kesenian Gong Si Bolong juga diajarin bahwa orang tua harus dihormati,” ujarnya

Semasa sekolah di SR, Buang seringkali ketiduran di kelas. Hal itu lantaran pada malam harinya dia harus manjak-ikut pagelaran menanggap kesenian Gong Si Bolong. “Dulu sekali manjak dapat duit seperak setengah rupiah. Sesekali dapat dua setengah perak,” kenangnya.

“Waktu ketiduran rupanya muka saya dicoret-coret oleh Pak guru. Saat mau bubaran sekolah, begitu saya dibangunin semua teman-teman sekelas pada nawain saya. Muka saya pada cemong,” ceritanya terbahak-bahak.

Tukang pikul

Awal karirnya di kesenian Gong Si Bolong sebagai tukang pikul. Saat itu pimpinan Gong Si Bolong dipegang oleh haji Bahruddin atau haji Bagol. “Dulu-kan kendaraan kagak ada. Jadi kalau mau nanggap, alatnya dipikul.”

Kepada Monde, Pak Buang mengatakan seluruh personil kesenian Gong Si Bolong meyakini kesakralan seperangkat alat yang dimainkan sehingga untuk memikulnya saja ada tata kramanya.

“Misalnya kalau dalam perjalanan tiba-tiba kebelet kencing alat tersebut tak boleh dibawa, harus ditarok dulu. Naroknya pun nggak boleh sembarangan. Lalu kalau mau kentut, alat yang tadinya di panggul di belakang, harus dipindahkan dulu kedepan. Nggak boleh sembrono.”

Lepas SR Buang melanjutkan sekolah ke Sekolah Tekni Gang Tengah di Salemba. Sayangnya tak sampai selesai sekolahnya terhenti di tengah jalan. “Itu karena persoalan fisik. Saya kecapean. Terus persoalan biaya juga...”

Di masa keemasannya, pertunjukan Gong Si Bolong, melanglang buana sampai ke Bojongsari, Kali Bata, Babakan, Cirendeu, Pondok Cabe, Pengasinan, Sukmajaya dan lain-lain.

Alat musik yang pertama kali bisa dimainkan oleh Pak Buang adalah Crek, kalau dalam bahasa kekinian namanya Tamborin. Kini, seluruh alat musik digunakan dalam kesenian Gong Si Bolong bisa dimainkannya, kecuali gendang, terompet dan rebab.

Saat masih di SR, meskipun dikenal sebagai raja tidur, dia mempuinyai kelebihan di dunia tarik suara. “Kalau pelajaran kesenian, semua tahu kalau saya jagonya... haha..ha,” guraunya.

Seiring berjalannya waktu, Buang-pun beranjak dewasa. Peminat kesenian Gong Si Bolong pun berangsur kurang dengan masuknya berbagai kesenian lainnya. Buang pun menggeluti dunia bisnis kecil-kecilan. “Tahun 1965, saya pernah jualan rokok keliling kampung di tempat orang hajatan,” katanya.

Sambil menjual rokok, dunia kesenian tak ditinggalkannya. Tercatat sejumlah kelompok seni di era 60-an dilakoninya, seperti Topeng Cisalak pimpinan Mak Kinang yang kini dipimpin Haji Dalih, Lenong Kp. Baru, Lenong Sinar Subur, Bojongsari bersama Bolot yang kini menjadi pelawak terkenal.

“Makanya sampai sekarang baik Bolot maupun Haji Dalih masih kenal sama saya. Kalau sama Haji Dalih saya udah kayak saudara, namanya pernah seperguruan. Saya nggak akan lupa kalau saya pernah dididik di Cisalak...”

Sekian puluh tahun sudah. Meski didera derasnya modernisasi, kesenian Gong Si Bolong tetap berdiri kokoh, tak lekang dimakan panas, tak luntur diterpa hujan. Hal ini lantaran didikan faham yang turun menurun diterapkan. Yakni kejujran dan kesetiaan.

“Dari dulu tidak pernah satupun ada anggota Gong Si Bolong yang keluar. Kalau yang keluar mati. Maksudnya bukan mati setelah keluar. Tetapi hanya mautlah yang memisahkan kemi...” paparnya.

Sedikit mengingatkan Gong Si Bolong pertama kali ditemukan oleh Pak Tua Jimin dari Ciganjur. [Kisah seputar penemuan Gong Si Bolong nanti akan dikupas di edisi lain—Red].

Dari Pak Tua Jimin diteruskan oleh pak Anim dan Kp. Curug. Kemudian pak Tua Galuh atau Pak Jerah dari Tanah Baru, lalu secara turun temurun diwarisi oleh Pak Saning, Nyai Asem, Pak Bagol, Pak Buang, Pak Kamsa dan kini di pimpin lagi oleh Pak Buang.(Wenri Wanhar)
online berita: Pertahankan kesenian dengan kejujuran