![]() | |
Print | |
| rePanggung damai | |
| Di manakah Betawi Depok? | |
| 20-Okt-2007 18:12:18 | |
| Etnik Betawi dianggap dan diakui sebagai pewaris Jakarta dan sekitarnya. Namun, batas-batas fisik dan sosial-kultural etnik ini sudah menipis, berbaur dengan aneka macam etnik atau sub-etnik lain. Batas fisik itu, misalnya, statistik populasi yang minoritas kecil, tak lebih dari 15%. | |
| Selain populasi, batas fisik orang Betawi adalah permukiman. Dulu, mereka tersebar dimana-mana. Ada yang tinggal di Kwitang, Matraman, tepian permukiman Cina di kota, dan seterusnya. Komunitas paling jauh mendiami kawasan Jakarta Selatan, dengan yang terdekat di daerah Mampang. Mulai ke pinggir Patut dicatat, Mampang hingga dekade 1970an masih kawasan penyangga “Jakarta yang sesungguhnya.” Sebaran permukiman masih ke selatan hingga kawasan Ulujami. Di Mampang dan daerah Pasar Minggu, orang Betawi masih menguasai lahan-lahan yang luas. Satu per satu kapling-kapling bergirik itu lenyap, jatuh ke tangan pendatang dari etnik lain, yang lebih memiliki sumberdaya ekonomi. Orang Betawi pun makin banyak yang tergusur ke wilayah pinggiran, termasuk Depok. Mereka bergabung dengan komunitas Betawi yang sudah lebih lama menghuni Depok, atau daerah lain di pinggiran Jakarta. Tapi, tidak sepenuhnya benar kalau dikatakan, hanya orang Betawi yang tersingkir ke pinggiran, sebagai ekses pembangunan fisik di Jakarta. Warga Jakarta yang non-Betawi pun sebagian ikut tergusur. Sejarah Depok mencatat salah satu kejahatan rezim Orde Baru pada saat kisah Gubuk Derita muncul ke permukaan pada awal 1980-an. Seorang warga Pejompongan digusur atas nama pembangunan. Ia memilih pindah ke Depok setelah memperoleh info tentang masterplan RUTR, di daerah yang sekarang menjadi jembatan layang di depan UI. Di sana pun ternyata ia tergusur lagi. Makam keluarga Kisah Gubuk Derita pasti lebih banyak dialami orang Betawi, meskipun tidak muncul ke permukaan. Komunitas lama dan baru Betawi di Depok masih banyak yang menghuni daerah permukiman di balik gemerlapnya Jalan Margonda. Mereka juga masih banyak yang menghuni kantong-kantong permukiman di Depok, termasuk kawasan yang jauh dari pusat kekuasaan, seperti daerah Selatan (Cinere, Sawangan, dan sekitarnya). Menandai kantong pemukiman Betawi agak susah-susah gampang. Salah satu indikator fisiknya adalah halaman rumah sebagai lokasi makam keluarga. Orang Betawi terbiasa memakamkan keluarganya di halaman rumah mereka. Karena itu, banyak makam tua di kantong pemukiman. Makam keluarga Betawi juga menjadi indikator lebih jauh mengenai menipisnya jarak sosial-budaya orang Betawi dengan non-Betawi. Kini hampir tidak ada lagi orang Betawi yang mengubur keluarganya di halaman rumah mereka. Kuburan orang Betawi sekarang adalah Tempat Pemakaman Umum (TPU) sebagaimana warga Depok non-Betawi. Selain itu, stereotipe yang pejoratif tentang orang Betawi juga telah mereka jauhi sendiri. Tidak banyak orang Betawi terpelajar yang masih menyukai dialek atau logal Betawi “asli,” seperti sebutan entong atau emak. Alhasil, dimanakah orang Betawi Depok? Mereka sudah berbaur dengan orang Jawa, Sunda, Padang, Batak, Kawanua, Ambon, dan entah apa lagi. | |
| online berita: Di manakah Betawi Depok? | |