![]() | |
Print | |
| Opini | |
| Uniknya racikan demokrasi akar rumput | |
| 6-Mei-2008 6:56:6 | |
| Masih dengan keterpanaan atas tumbangnya calon-calon kepala daerah yang diusung partai-partai besar, sebuah fakta terus menggelitik benak, merayu untuk menyeruak. | |
| Berbagai analisa telah disampaikan oleh para pakar pelaku maupun pengamat politik. Jadi ini hanyalah sebuah penghadiran fakta secara sederhana tentang hal yang sebetulnya memang cukup sederhana. Tidak serumit analisa-analisa yang ada. Gerakan reformasi—sepuluh tahun lalu adalah darah segar yang menghidupkan kembali organ-organ demokrasi negeri ini yang mati suri lebih dari tiga puluh tahun lamanya. Seolah seorang anak yang sedang belajar berjalan, kita kembali tertatih-tatih menjalani ritme kehidupan berbangsa dan bernegara yang tak boleh berhenti barang sekejap, tanda kita berdaulat. Banyak hal yang harus kita kejar, banyak ilmu yang kita perlu belajar, karena kita sungguh tertinggal. Bagaimana membangun kehidupan politik yang sehat, bagaimana menegakkan rule of law, bagaimana mengelola perekonomian agar tidak makin parah kebangkrutan negara kita, dan sebagainya. Selama tiga dekade lebih kita hidup di negeri dongeng, dibuai oleh berbagai cerita keberhasilan, yang mengaburkan pandangan kita dari realitas masalah yang demikian parah komplikasinya. Dan proses belajar itu terus berlangsung sampai kini. Sampai kapanpun malah, karena terbukti bahwa para pemimpin dunia ini adalah para pembelajar. Yang paling menarik adalah upaya kita belajar berpolitik. Entah bagaimana asal mulanya, namun gerakan reformasi yang semula jadi dijiwai sepenuh hati oleh segenap rakyat, yang lahir dari rahim keinginan kuat masyarakat untuk berubah, yang bersimbah peran serta ibu rumah tangga sampai mahasiswa, berangsur kembali pada ritme eksklusifitas politik praktis. Rakyat—di level akar rumput—kembali berjibaku dengan perjuangan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka hanya bisa menggeleng-geleng lemah menatap harga beras, minyak goreng, kedelai, juga minyak tanah yang makin tak terjangkau. Memenuhi basic needs menjadi sesuatu yang membutuhkan kerja keras, sehingga hiruk-pikuk politik buat kebanyakan orang adalah something beyond the days…. Lalu tibalah saat-saat gempita politik menyapa. “Pilkada Bu…”. “Pilgub Pak…”. Maka mereka manggut-manggut saja, tak lupa sambil tersenyum karena itu sudah refleks, Alhamdulillah. Maka inilah keunikan itu: bisik-bisik politik. “Mau milih siapa Jeng? Besok nyoblos kan?”, tanya seorang Ibu pada tetangganya sambil memilih-milih ikatan kangkung yang paling segar di Abang tukang sayur. “Males sebetulnya Mbak, tapi nanti nggak enak sama Pak RT, kasian udah capek-capek nganterin undangan coblosan. Enaknya siapa ya…?”. “Yang cakep aja, yang masih muda, masih semangat gitu…”, seorang Ibu muda menyahut, sambil meraup segenggam tauge. “Iya, yang keren”. Ada juga bisik-bisik di beranda rumah petakan yang berderet selepas ashar, “Milih saha gubernur Teh?”, tanya seorang Ibu sambil lalu. “Yang bageur atuh. Yang kinclong”. Tak dinyana malam harinya tersiar kabar bahwa besok jam 7 pagi pasangan kandidat kinclong itu akan datang ke RT mereka. Dan itu betul-betul terjadi. Maka pagi itu berebutlah mereka menyalami sang kandidat yang bertandang ke gang sempit itu. “Touch me, look at me…”, begitu kira-kira harapan mereka. Menjelang maghrib, banyak suami istri bersepakat untuk memilih kandidat ganteng itu. “Yah udah jelas kita milih siapa, kan yang lain belum pernah ngeliat orangnya gimana. Baru potonya aja”. “Nyoblos nya’?”, “Santai weh, banyak calonnya tinggal dipilih… “. Bebas memilih Sederhana. Bebas untuk memilih memang menyenangkan, ada juga yang merasakan semacam sensasi petualangan di dalamnya. Tidak usah rumit-rumit mikirnya. Yang ganteng, yang cantik, murah senyum. Yang baik: mau mendatangi, menyapa dan menyalami, memberi bantuan. Itu pertimbangan yang paling banyak dianut. Demokrasi di akar rumput kita saat ini diracik dengan bahan-bahan alami yang ada di lingkungan terdekat. Betul-betul back to nature. Tidak ada harapan yang terlalu muluk, tidak ada tuntutan yang terlalu melangit. Kadang bahkan terkesan amat apa adanya. Perubahan? “Artinya harga-harga pada turun”. Demokratis? “Maksudnya peduli gitu, ingat sama kita-kita yang kesusahan. Sering ada baksos”. Berangkat ke TPS pun bermacam-macam motivasinya: “Kata Ustadzah Mariam kemarin kan kalo nyoblos dapet pahala, asal nyoblosnya calon yang soleh”. “Gak enak sama Pak RT”. “Sayang ntar jatah kuenya”. “Pengen tau aja, nih Ibu-ibu pada nyamperin…”. “Siapa tau dapet door prize…”. Analisa tentang mana yang lebih disukai, partai nasionalis atau partai ideologis? Juga analisa calon mana yang lebih memikat, calon dari mantan pejabat, pengusaha dan mantan militer atau calon dari kalangan artis dan politisi? Ternyata pertanyaan-pertanyaan itu tidak ada dalam daftar bumbu demokrasi akar rumput. Apalagi pertanyaan tentang kebijakan. “Janji mah udah banyak, kita nunggu buktinya aja…”. Bahkan kepekaan terhadap elok tidaknya kebijakan pun pupus sudah. Dari segala kesederhanaan ini sesungguhnya sebuah pelajaran besar terpampang. Para pemimpin ditantang untuk menjadi pemimpin yang benar-benar lekat dengan rakyat. Fokus pada kerja keras untuk membuat mereka lebih sejahtera. Rajin menyapa mereka di kampung-kampung, untuk mendengar langsung harapan dan kritikan. Demikian kuat keberpihakannya pada kepentingan rakyat banyak, hingga mereka akan memasang fotonya di lubuk hati yang terdalam. Menghormatinya dengan salut paling tulus, dan mendoakannya untuk terpilih dan terpilih lagi, tidak peduli partai apa yang mendukungnya, atau dari kalangan mana asalnya. Terlampau sering sudah rakyat menelan janji demi janji, antusias menyambut kemilau mimpi untuk melihatnya memudar pergi. Cukuplah hati pemimpin yang menjadi penutur kearifan, hendak ke manakah amanah melayani itu dilabuhkan…. Demokrasi akar rumput, memang hanya untuk mereka yang mau bermalam di kepapaan, menyelami kondisi alami. Sesederhana itu. . Penulis adalah Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga Lembaga Kajian Pembangunan Daerah (LKPD) | |
| online berita: Uniknya racikan demokrasi akar rumput | |