![]() | |
Print | |
| Edukasi | |
| Jadikan pertanian lokomotif kebangkitan ekonomi | |
| 16-Mei-2008 12:59:9 | |
| BEJI, MONDE: Ketua Umum Pemuda Tani Indonesia, Soepriyatno mengatakan semestinya pemerintah menjadikan pertanian sebagai lokomotif kebangkitan ekonomi bangsa. Pasalnya, Indonesia memiliki potensi sangat besar di sektor pertanian sebagai modal untuk keluar dari kondisi krisis. | |
| Menurutnya, krisis ekonomi yang berkepanjangan membuat rakyat Indonesia berada di titik nadir kemisikinan. Bahkan rencana pemerintah menaikkan bahan bakar minyak (BBM) akan berdampak pada bertambahnya jumlah warga miskin di Indonesia. Menurutnya, di beberapa negara luar yang pernah mengalami krisis ekonomi, mereka justru sudah terlepas dari krisis tersebut. Keberhasilan negara lain bebas dari krisis ekonomi karena didukung rasa nasionalisme warganya untuk bangkit dari keterpurukan. “Seharusnya bangsa Indonesia bisa belajar dari bangsa lain bagaimana cara bangkit dari krisis,” ujar Soepriyatno, baru-baru ini. Sebab itu, dia mengaku cukup prihatin dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang. Nasionalisme Bertolak dari keprihatinan itu, Soepriyatno yang juga komisaris Rumah Sakit Graha Permata Ibu Depok itu, berniat meluncurkan sebuah buku berjudul Nasionalisme dan Kebangkitan Ekonomi. “Munculnya keinginan menulis buku berawal dari kegelisahan saya melihat kondisi bangsa. Kenapa setelah sepuluh tahun reformasi berjalan, kemerdekaan dan kesejahteraan tidak pernah dirasakan masyarakat,” katanya. Dalam bukunya setebal 200 halaman itu, Soepriyatno memamparkan mengenai solusi mengatasi krisis ekonomi yang dialami bangsa Indonesia. “Pemerintah seharusnya menjadikan pertanian sebagai lokomotif kebangkitan ekonomi,” tandasnya. Soepriyatno mengungkapkan saat ini hutang Indonesia mencapai 1.427 triliun, sedangkan aset negara hanya 1.300 triliun. “Secara eknomi negara kita sudah bangkrut,” ujarnya menambahkan. Keterpurukan Indonesia, katanya, juga disebabkan mental pemimpin yang hanya mencari keuntungan sesaat. Indonesia punya sumber daya melimpah, namun pemimpinnya punya mental penjajah. Menurut Ketua Bidang Kepemudaan HKTI itu, seorang pemimpin harus berani mengambil risiko dan tidak takut menjadi tidak populis. “Jadi seorang pemimpin yang dibutuhkan adalah pengorbanan,” katanya. Peluncuran buku perdananya itu, kata Sopriyatno, akan dilakukan pada 22 Mei mendatang di Taman Ismail Marzuki. Rencananya peluncuran juga akan dihadiri sastrawan WS Rendra yang tinggal di Depok. Dalam bukunya yang diterbitkan oleh Institute for National Startegic Interest and Development itu, diisi kata pengantar dari ahli ekonomi Prof Sri Edi Swasono, yang merupakan suami dari Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meuthia Hatta.Sementara itu Ketua DPC Pemuda Tani Kota Depok, Akbar Husein menyambut baik rencana peluncuran buku tersebut.(van) | |
| online berita: Jadikan pertanian lokomotif kebangkitan ekonomi | |