![]() | |
Print | |
| Edukasi | |
| Luapkan kegembiraan dengan aksi corat-coret | |
| 9-Mei-2008 13:23:54 | |
| Aksi corat-coret masih mewarnai hari terakhir pelaksanaan ujian nasional tingkat SMP/MTs di Kota Depok. | |
| Meski upaya antisipasi dengan cara pengarahan kepada siswa-siswi oleh aparat kepolisian selepas ujian telah dilakukan. Pemandangan ini sempat ditangkap Monde sekitar dua jam seusai ujian nasional hari terakhir rampung digelar. Sekitar pukul 12.00 tak kurang dari 20 siswa dengan seragam putih biru, telah penuh coretan ini terlihat di sekitar Jalan Siliwangi. Menurut warga sekitar, kerumunan pelajar SMP tesebut mulai tampak di depan RS Hermina. “Tadinya kerumunan terlihat di depan RS Hermina. Lalu berjalan ke arah Margonda, terus ngumpulnya di depan warung depan Jl Kenanga. Saya sudah mengamati dari tadi. Takutnya mereka tawuran di wilayah sini, jadi saya buru-buru telpon polisi,” kata Loen yang merupakan keamanan di wilayah Jl Siliwangi. Tak lama kemudian, seorang aparat terlihat menghampiri kerumunan. Sontak seluruh siswa yang berkerumun menghambur berlarian masuk ke Jl Kenanga. Sementara beberapa menit usai ujian berakhir, di SMPN I Depok seluruh siswa diberikan pengarahan oleh dua aparat kepolisian dari Polsek Pancoran Mas. “Saat ini sudah ada komitmen dengan Dinas Pendidikan, kalau didapati ada siswa yang tawuran akan langsung ditangkap dan ijazanya ditahan,” ujar Mujiran, aparat Polsek Panmas. Sudah bebas Hal serupa juga terjadi di Jalan Raya Sawangan. Walau belum dinyatakan lulus, sejumlah siswa melakukan aksi corat-coret serta pembubuhan tanda tangan. Iwan, seorang pelajar mengatakan, aksi corat-coret ini sebagai bentuk terlepasnya mereka dari masa-masa menegangkan selama empat hari menghadapi ujian nasional yang menguras otak. “Kami memang belum tahu hasilnya lulus atau nggak, yang penting sekarang kami sudah bebas dulu dari beban berat ini (ujian nasional—red),” ujarnya. Iwan dan kawan-kawannya yang semuanya laki-laki ini secara serempak bergerobol meluapkan kelegaan lepas dari beban berat itu. Mereka mangatakan urusan lulus atau ngak itu urusan nanti. Bukan bermaksud merayakan keberhasilan yang belum tentu diraih akan tetapi hanya sekadar untuk melepas tegang. Mereka berharap tetap lulus saat pengumuman nanti. “Jika memang telah dinyatakan lulus nanti, akan menjadi kabar yang lebih menggembirakan lantaran hasil belajar selama tiga tahun,” kata Iwan. Seorang warga yang menyaksikan aksi para pelajar yang masih berusia belasan ini tahun ini, hanya dapat geleng-geleng kepala mengingat mereka belum dinyatakan lulus. “Ngapain mereka pada corat-coret, lulus aja belum tentu,” kata Muslih, warga yang melewati lokasi tersebut. Ia menyayangkan masa belajar siswa belum usai, sudah melakukan corat-coret. Baju yang terkena cat warna jadi tidak bisa digunakan lagi untuk sekolah. “Memang dimaklumi, usia remaja merupakan masa yang labil sehingga terkadang mengekspresikan semua kegembiraan itu berlebihan,” ujarnya.(Mas Said/Novita Adi Wibawanti) | |
| online berita: Luapkan kegembiraan dengan aksi corat-coret | |