![]() | |
Print | |
| Berita Utama | |
| Tetap waspada, tataplah ke depan! | |
| 15-Mei-2008 12:8:15 | |
| Hampir setiap hari media massa menebar wacana dan diskusi ihwal kondisi perekonomian negara saat ini. | |
| Miris dan serem mendengarnya. Pemerintah seperti dihadapkan pada pilihan sulit, bak buah simalakama. Kalau BBM naik, efeknya berantai. Nggak dinaikin subsidi membengkak. Maju kena, mundur kena. Ironisnya, ini terjadi saat kita bersiap memperingati satu abad Kebangkitan Nasional dengan tema Indonesia bisa! Kenaikan harga BBM maksimum 30% dipercepat menjadi akhir Mei. Tapi dampak psikologisnya sejak jauh hari telah memicu kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Industri manufaktur pun terkena imbasnya. Kalangan industri ini sekarang sibuk mengalkulasi ulang ongkos produksi. Pelemahanan ekonomi dan kenaikan harga BBM subsidi akan berdampak pada naiknya harga produk manufaktur 5%-7%. Biaya transportasi darat meningkat sekitar 30%, dan tarif kiriman ekspres naik lebih dari 20%. Dalam kondisi ekonomi yang memburuk, para pemodal berpikir ulang untuk segera masuk atau merealisasikan rencana investasi mereka. Boro-boro investor baru, pengusaha yang lama saja sudah mulai gerah. Mereka berancang-ancang untuk mengurangi jumlah pekerja, atau mencari cara lain yang dapat menekan beban biaya. Ini berarti angka pengangguran bakal meningkat. Industri alas kaki, misalnya, akan memangkas pekerja pada akhir Mei minimal 10% atau sekitar 250.000 dari sedikitnya 2,5 juta orang. Perusahaan tekstil Lucky Abadi yang berlokasi di Depok, dilaporkan berencana menerapkan pola outsourcing bagi 90% tenaga kerjanya. Pemerintah berupaya keras menekan dampak pelemahan ekonomi terhadap masyarakat, utamanya rakyat miskin. Berbagai kebijakan telah dibuat, termasuk melanjutkan pola Bantuan Langsung Tunai, yang pada 2005-2006 melahirkan sejumlah kasus penyimpangan. Pola BLT memang cukup banyak mendapat dukungan. Tapi masalahnya, sampai kapan cara itu bisa terus efektif? Sekarang, harga minyak mentah dunia sudah menembus level US$126 per barel. Lha kalau sampai US$200 per barel gimana? Kapan kita bisa keluar dari situasi yang menekan ini? Oleh sebab itu ada pengamat yang menyarankan agar sebagian dana subsidi tersebut dialokasikan pada proyek padat karya. Jadi, tidak melulu untuk konsumsi. Logikanya, roda ekonomi berputar dan mencegah lubernya pengangguran. Namun dari pengalaman masa lalu, krisis ekonomi juga memicu peningkatan angka kriminalitas, serangan stres dan depresi, konflik horisontal, serta oknum-oknum yang mencoba memanfaatkan situasi. Hampir setiap hari televisi dan media cetak memberitakan kasus terbongkarnya penimbunan, pengoplosan dan penyelundupan BBM. Kasus ini terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia, melibatkan aparat, pengusaha, pemasok dan supir tanki BBM. Himpitan ekonomi dan pengangguran juga memicu naiknya angka kriminalitas. Tekanan hidup kerap membuat orang mata gelap dan mengambil jalan pintas. Berdasarkan data Polda Metro Jaya, selama periode Januari-Maret 2008 di Jakarta saja terjadi 12.426 kasus kriminalitas. Dari jumlah itu 3.773 merupakan kasus pencurian dengan pemberatan serta kekerasan. Angka ini naik dari periode sama tahun 2007 yang hanya 2.426 kasus. Sejumlah kasus bunuh diri dilaporkan sudah terjadi karena himpitan kemiskinan. Angka penderita stres dan depresi dipastikan naik. Situasi seperti itu juga berpotensi memperbesar peluang praktek korupsi, pembalakan hutan, penyelundupan, serta kongkalingkong antara aparat dengan pengguna, pengedar dan bandar narkoba. Semuanya telah, akan dan berpotensi terjadi. Sedih rasanya, seabad Kebangkitan Nasional harus ditandai dengan bangkitnya harga-harga, angka kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, serta kemarahan dan kekecewaan publik. Hanya harga diri yang turun. Apa yang harus dilakukan? Tiba-tiba saya teringat sebuah pembicaraan telepon dengan Pak Sayogo. Pensiunan yang pernah sekantor dengan saya ini mengatakan: “Hidup makin sulit, pak. Tapi kita harus tetap optimis. Be aware, re-thinking, looking forward...” | |
| online berita: Tetap waspada, tataplah ke depan! | |