![]() | |
Print | |
| Berita Utama | |
| BEM SI: Indonesia harus bangkit | |
| 24-Mar-2008 12:46:35 | |
| KAMPUS UI, MONDE: “Reformasi belum selesai,” demikian pernyataan sikap BEM SI dalam peringatan 10 Tahun Reformasi di Kampus UI Depok, kemarin. | |
| Oleh karena itu, menurut BEM SI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia, saatnya bangsa Indonesia bangkit tanpa membesar-besarkan perbedaan pandangan dan ideologi. “Bangsa Indonesia harus bangkit...” Pernyataan itu menjadi tugas dan pekerjaan rumah (PR) bangsa ini bersama-sama, sebagaimana dirumuskan Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) dalam konferensi 21- 23 Maret 2008 di Kampus UI Depok. Konferensi itu juga merupakan momen penyatuan sikap BEM SI, dalam 10 tahun reformasi berjalan. “Sebuah gerakan yang konstruktif dan solutif harus dibangun untuk menjawab permasalahan bangsa. Pemerintahan yang diamanatkan oleh UUD 1945 harus dikembalikan,” kata Koordinator Pusat BEM SI, Budiyanto. Selama Konferensi yang diikuti puluhan delegasi dari perguruan tinggi di Indonesia itu membahas permasalahan fundamental dan mendesak untuk diselesaikan. Untuk menuntaskan persoalanitu, bangsa Indonesia mesti bangkit dan berdaulat. “Substansi dari reformasi belum tercapai, cita-citanya baru tercapai apabila tuntutan rakyat dapat dipenuhi,” lanjut Budiyanto dalam konferensi pers di Pusgiwa UI kemarin. Hasil dari Konferensi BEM SI itu pun dituangkan dalam Tugu Rakyat-Tujuh Gugatan Rakyat (lihat grafis-Red). “Sikap yang telah dirumuskan bersama ini, kami nyatakan dengan harapan dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi bangsa Indonesia,” kata Budiyanto, yang merupakan delegasi dari UGM itu. Pernyataan sikap ini, lanjutnya, adalah salah satu titik perjuangan BEM SI dan komitmen teguh dalam berjuang mewujudkan Indonesia yang lebih baik. “Tidak ada yang dapat menghentikan langkah kami selain Tuhan memutuskan jasad kami terbujur kaku di Bumi Pertiwi demi bangsa yang kami cintai,” tandasnya. Namun uniknya, saat tanya jawab dengan sejumlah wartawan, Budiyanto dkk, berkesan tidak begitu terbuka dan cenderung memberikan jawaban yang normatif. Seperti saat Monde menanyakan apa yang akan terjadi apabila Tugu Rakyat itu tidak dapat dipenuhi oleh pemerintah? Kapan tenggat waktu dari Tugu Rakyat ini? Atau apa langkah konkret dari BEM SI terkait derita umum rakyat Indonesia itu? “Ini baru gerakan yang konstruktif,” ujarnya. Begitu pula saat BEM SI menegaskan para tokoh reformasi sudah kebablasan arah, saat didesak sejumlah wartawan lain tokoh yang mana, Budiyanto dkk tidak bersedia memberikan keterangan. Kalangan mahasiswa ini tak memberikan agenda aksi yang bakal diusung terkait dengan program atau konsep yang disusunnya. “Kok sudah kayak anggota Dewan aja, cuma pintar ngomong, kapan mereka mau konkret aksi,” celetuk seorang wartawan. Monde saat menanyakan ke pejabat Humas BEM UI, Habibi, yang bersangkutan menegaskan konferensi ini baru langkah awal. “Ada kesepakatan untuk keseragaman gerakan kami secara teratur di seluruh Indonesia,” katanya. Ia menyebutkan BEM SI juga menjajaki audiensi dengan pihak eksekutif dan legislatif, sebagai agenda berikutnya. “Aksi konkret akan dijadwalkan kemudian, yang penting penyatuan gerakan moral ini konstruktif dulu,” katanya. | |
| online berita: BEM SI: Indonesia harus bangkit | |