![]() | |
Print | |
| Ajang Duit | |
| Pengembang perlu siasati turunnya daya beli | |
| 14-Mei-2008 12:28:48 | |
| Para pebisnis perumahan di Kota Depok mau tidak mau bakal terkena dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang rencananya akan dinaikkan oleh pemerintah kendati berbagai kalangan menolaknya. | |
| Para pengembang real esate di Kota Depok harus jeli memanfaatkan momentum kenaikan harga BBM tersebut karena dampak kenaikan itu bakal melemahkan daya beli masyarakat. Paling tidak calon pembeli yang sebelumnya sudah merancang akan membeli rumah pada tahun ini bakal menunda karena mereka akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan lainnya. Barangkali saran Deputi bidang Pembiayaan Kementerian Negara Perumahan Rakyat Tito Murbaintoro patut dipertimbangkan agar jangan sampai rumah yang sudah bangun, ternyata tidak terserap oleh pasar. Pengembang perumahan perlu menyiasati turunnya daya beli masyarakat seandainya kebijakan kenaikan BBM jadi dilaksanakan. Kejelian yang dimaksudkan adalah menyesuaikan kembali tipe rumah sehingga harganya bisa terjangkau. “Jadi bukan kualitasnya yang dikorbankan akan tetapi tipenya disesuaikan kembali agar harga menjadi terjangkau,” kata kemarin seperti ditulis Antara. Tito yang ditemui usai menandatangani Perjanjian Kerjasama Operasi dengan BNI Syariah untuk menyalurkan pembiayaan syariah hunian bersubsidi mengatakan, sepanjang harga dapat ditekan, daya beli tidak akan berpengaruh. Penyesuaian bukan dari aspek teknis karena berarti mengurangi kualitas, akan tetapi tipenya saja yang diperkecil dari semula 36 menjadi 30, namun luasan tanah tetap sesuai persyaratan. Mengenai kemungkinan memperluas subsidi yang ditetapkan untuk rumah baru Golongan I Rp8,5 juta, Golongan II Rp11,5 juta, dan Golongan III Rp14,5 juta, dia mengatakan pertimbangan peningkatan subsidi telah mempertimbangkan perkiraan inflasi 2008. Pemerintah juga tidak akan melakukan penyesuaian subsidi rumah swadaya yang sebelumnya juga dinaikan Golongan I Rp5 juta, Golongan II Rp7 juta, dan Golongan III Rp14,5 juta, ujarnya. “Ketika melaksanakan penyesuaian batasan harga yang disubsidi kami sudah melihat kemampuan masyarakat dalam setahun ke depannya,” katanya. Namun tidak dipungkiri, akibat kenaikan harga BBM akan memacu inflasi yang membuat suku bunga kredit naik, akan tetapi pemerintah telah mempertimbangkan dengan memberikan subsidi bunga. “Kalau melihat skenario angsuran KPR bersubsidi sebenarnya sudah menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing golongan,” katanya.(Tularji) | |
| online berita: Pengembang perlu siasati turunnya daya beli | |